28 Juli 2013

# opini

Anak Kecil di Sudut Toko

Anak kecil itu kini tengah menatap pada satu titik di depannya. Menatap nanar dengan tatapan kosong. Tak ada satupun yang tau apa yang sedang dipikirkannya. Ia tampak terlihat pucat dan tidak bersemangat. Seperti ada beban yang sedang ia pikul. Namun tak ada yang peduli.

Diluar cuaca tampak terlihat mendung. Dengan langit yang hampir sebagian besar bewarna putih dan sedikit bewarna biru. Orang tengah beristirahat dari rutinitas biasanya, memanfaatkan hari minggu dengan sebaiknya. Namun bukan tak mungkin ada yang masih bersusah payah bekerja kesana kemari.  

Tampak terlihat seorang tukang angkat yang masih saja terus mengangkat barang, walaupun sudah berapa kali ia bolak-balik dari tempat itu. Kering mengguyur dahi, leher serta punggungnya yang terlihat dari basah baju yang dipakainya. Orang itu tetap bersemangat mengerjakan rutinitasnya meski kebanyakan orang kini sedang beristirahat atau sekedar berjalan-jalan dengan keluarga.

"Apakah hidup ini adil?" Banyak orang yang memiliki nasib yang beruntung dengan mempunyai fasilitas yang sangat memadai. Namun lebih banyak juga yang banting tulang untuk berusaha meraih sesuatu yang ia inginkan. Jika disuruh memilih semua orang pasti ingin kaya. Namun dengan keanekaragaman hidup ini, orang menjadi terbagi-bagi menjadi beberapa kasta.


Kini saya tau apa yang ada dibalik pikiran anak kecil yang tengah duduk di sudut Toko itu. Di lantai depan sebuah toko rusak yang tidak dipakai lagi. Ia tampak senang ketiksa dari jauh melihat sesosok pria. Yang setelah diketahui itu ayahnya. Sang ayahnya menghampirinya dan  memberi anak itu sekantung plastik dengan nasi bungkus di dalamnya. Dengan lauk seadanya ia makan dengan lahap. Sang ayah begitu senang melihat anaknya begitu menikmati jerih payah yang ia kerjakan.

Saya begitu terharu melihat peristiwa yang benar-benar nyata ini. Ini tidak saya lihat di dalam televisi, namun langsung dengan kedua mata saya. Seorang ayah yang mengais rezeki dengan menjadi seorang tukang angkat demi anak tercintanya. Biarlah ia bersusah payah asalkan sang anak senang dan tidak merasa kelaparan.

Saya menyadari begitu dahsyat perjuangan orang tua. Yang apapun pekerjaannya tetap menomorsatukan kebahagiaan anaknya. Saya bersyukur Tuhan masih memberi saya orang tua dengan pekerjaan yang layak. Saya sangat bersyukur dengan rahmat dan nikmat yang tengah saya rasakan. Dan kini saya akan berusaha menikmati apa saja yang diberikan orang tua kepada saya. Karena saya tahu mereka sudah banting tulang untuk mendapatkan semuanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)