Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label words. Tampilkan semua postingan

8 Juli 2019

when you feeling so sick..

Senin, Juli 08, 2019 0

1 Juli 2019
-
-
Such a tired day, in and out.
Tadi pagi gue benar-benar mengeluarkan seluruh emosi yang terpendam. Kalau dipikir-pikir itu baru pertama kalinya gue mengungkapkan perasaan seperti itu kepada orang tua. Air mata gw pecah. Tangis gw tak tertahan. Banyak rasa yang tak terucap. Banyak ketakutan yang tak tersampaikan. Gw hanya bisa nangis dalam pelukan. Dan ternyata memang itu yang gw butuhkan. Diam dalam tangis serta kata-kata penenang. Bahwa semuanya baik-baik saja.

All is well.
Kata ajaib itu benar2 mujarab membuat gw tenang dari kekalutan pikiran yg gw rasakan belakangan ini. Ketika tidak ada teman untuk bercerita, gw hanya butuh seorang penenang dan pendengar dari banyaknya kekhawatiran yg ada di pikiran gw.

Dari dulu gw memang selalu fokus pada satu hal. Termasuk ketika ada satu hal yg mengganjal, gw akan fokus utk menghilangkannya. Gw belum bisa terima, kenapa hal tsb bisa mengganjal. Dan gw akan terus memikirkannya, hingga gw kehilangan nafsu untuk melakukan hal2 lain.

Pagi tadi magic words dr Papi benar2 membuat hati dan pikiran gw terbuka. Seiring bertambahnya usia banyak hal yg mesti kita ubah, termasuk cara gw menghadapi sesuatu. Gw gak bisa selamanya seperti itu. Pengganjal itu memang menjadi penghalang. Namun gw tidak harus fokus pada hal itu saja. Gw harus mulai menerima keadaan bahwa tak selamanya yg gw mau itu akan terwujud.

Banyak hal menjadi hitam karena gw terlalu fokus pada titik itu. Banyak hal tertutup karena gw hanya melihat pada pengganjal itu. Padahal masih byk hal lain yg bisa gw torehkan. Gw jadi belajar bahwa hidup ini terkadang tentang penerimaan. Sepahit apapun, sesakit apapun yang kamu rasakan hidup harus tetap berjalan.

Tinggalkan kesan positif kpd orang lain dan lingkungan walaupun sebenarnya di dalam kamu sedang berjuang untuk bertahan. Tidak ada lagi namanya meratapi tanpa melakukan hal-hal yang berguna or doing nothing.

Mulai sekarang gw harus bisa menerima keadaan dan memulai hidup baru as my new me. My positive mind and always stay positive for life. Mari melakukan sesuatu yg berguna dengan hati ceria, hidup yang sehat, dan pikiran positif.

Thanks Dad for all your magic words.
Its mean a lot for me❤️


4 Juli 2019
-
-
Emosi gue sebulan terakhir ini benar2 campur aduk.
Kadang tiba2 gue nangis, kadang gue senyum2 sendiri.
Hidup ini sangat lucu.
Saat lo merasa kesakitan, lo berasa gak yakin hari esok akan menghampiri.
Saat sakit itu tak datang lo akan berencana melakukan banyak hal.
Sakit akan membuat lo sadar bahwa dunia ini benar-benar tipu daya.
Hidup ini hanya sebentar, sekejap saja.
Ketika rasanya lo ga sanggup lagi menahan ingin rasanya lo pergi dan mungkin takkan kembali lagi.
Bahkan kadang gue terlalu bersemangat untuk tidur lama agar tak merasakan sakit yg hanya dirasa ketika bangun.

Akhir2 ini gue semakin mendekatkan diri pada Tuhan.
Tak jarang di tengah sholat, doa, dan lantunan yg gue panjatkan air mata ini mengalir tiba-tiba.
Mengingat masih banyaknya dosa yg telah gue lakukan, banyaknya hal yg belum sempat gue kerjakan, amal ibadah baik yg selalu lupakan, dan wajah kedua orang tua gue.
Entahlah, kadang gue berasa akan lebih menyayat hati kalau gue memberi tahu rasa sakit ini kepada mereka.

Gue tak ingin mereka bersedih dan kepikiran tentang gue.
Gue ingin mereka bahagia, dan biarlah rasa sakit ini hanya gue yang rasa.
Kadang ketika ditengah rasa sakit dan takut yang teramat sangat gue berdoa agar semuanya ini hanya sementara.
Gue ingin kembali seperti sedia kala.
Saat rasa ini belum pernah gue rasakan.
Gue berharap Tuhan masih mencintai gue, dan gue akan berusaha untuk beribadah lebih baik lagi.

Masih banyak yang ingin gue lakukan
Masih banyak hal yang belum sempat gue berikan pada orang tua dan keluarga
Masih banyak impian yg belum gue capai
for that i want still alive
Dear god let me still alive for a long time :)

23 Mei 2019

22 Mei

Kamis, Mei 23, 2019 0

Gue termasuk orang yang paling inget sama tanggal. Misal tanggal ulang tahun seseorang meskipun orang itu sudah lama gak gue temui. Pernah suatu waktu gue tiba-tiba chat temen sd yang dari tahun 2007 gak pernah ketemu, ngucapin selamat ulang tahun. Dia tiba-tiba kaget, kok bisa tau? Gue bilang karena emang gue inget walaupun udah lama banget. Kemampuan gue mengingat tanggal emang bisa dibilang anugerah atau malah musibah?

22 Mei. 

Gue paling mengingat hari ini. Karena seseorang juga sedang berulang tahun. Sosok yang dulunya sangat penting di hidup gue. Keberadaannya kini yang entah dimana membuat hati kecil gue bergumam, apakah dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama orang yang disayanginya?

Dulu ketika masih bersama, gak ada memori di kepala gue yang memutar adegan saat ulang tahunnya. Jika diingat lebih lanjut, kami emang gak pernah merayakan ulang tahunnya, atau memori gue gak terlalu jernih untuk mengingat semuanya? Sangat disayangkan, karena gue gak punya ingatan sama sekali tentang ulang tahunnya.

Pada 22 Mei tahun ini dia genap setengah abad, gue merasa sudah begitu canggung ketika mengingatnya. Sudah hampir 8 tahun ketika terakhir kala menatap wajahnya. Kadang gue berharap dia pernah memikirkan gue seperti saat ini ketika gue memikirkannya di hari ulang tahunnya. Tidak banyak momen yang tercipta ketika kita bersama, namun beberapa pelajaran hidup yang dia berikan selalu ada di ingatan gue.

Kini gue telah dewasa gue telah melihat berbagai macam hal dalam kehidupan dan gue masih belum paham alasan dia gak pernah mau menemui gue lebih dulu. Gue merasa ini akan selalu menjadi hal terkelam dalam hidup gue, fakta dimana gue masih memiliki dosa karena tak pernah menjumpainya. Entahlah, gue selalu berpikir apakah dosa ini akan selalu membayangi sampai nanti saat nyawa tak lagi di badan.

Jujur sebenarnya gue ingin menyudahi semuanya, walaupun tidak seperti dulu gue sangat ingin menemuinya. Entah seperti apa rupanya sekarang, apakah keriput sudah terpampang di wajahnya? Atau masihkah ada raut wajah menakutkan padanya atau sudah berganti dengan keteduhan? Kadang gue penasaran hingga akhirnya terbawa mimpi. Dalam setahun beberapa kali wajahnya muncul di mimpi gue, yang menandakan bahwa sosoknya memang tak akan pernah pergi dari hidup dan jiwa gue.

Dan lagi-lagi gue gak bisa berbuat apa-apa saat keinginan terbantah keadaan. Ditambah rasa takut yang dulu pernah bersemayam mendadak muncul disaat gue bersikeras untuk menemuinya terlebih dulu. Sikapnya saat bertemu gue yang membuat air mata ini mangalir begitu deras masih berasa jelas di ingatan, dan gue takut itu terulang lagi. Seandainya dia mau menemui gue terlebih dulu, betapa lega dan senangnya gue...

Tapi sayangnya itu gak ada pernah terjadi, karena gue tau betul bagaimana sifatnya. Sifat keras dan gengsi yang begitu besar sudah menghancurkan semuanya. Hal yang gue impikan itu tak akan pernah terjadi.

Gue selalu berdoa, tepat di hari ulang tahunnya, yang entah dia masih mengingat gue atau tidak, semoga dia diberikan keberkahan di sisa umurnya dan selalu diberikan kebahagiaan. Semoga dia bahagia dengan hidupnya dan itu sudah cukup bagi gue.

Terima kasih atas 14 tahun yang berharga di awal masa hidup gue. Walaupun hubungan kita tidak dekat, gue sangat bersyukur pernah memilikinya di hidup ini. Terima kasih, semoga hidupmu selalu diberkahi sampai akhir hayat. Aku disini, akan selalu mendoakanmu :)

- Jakarta, 22 Mei 2019

14 Mei 2019

Penyesalan

Selasa, Mei 14, 2019 0

Sesak rasanya ketika penyesalan itu datang, dan selalu terlambat. Penyesalan yang menyebabkan saya selalu menyalahkan diri sendiri. Im always blame my self for this. Whats wrong with me. Why am i always like this. Can i be like other people. Dan ini terlalu menyesakkan, dan saya tidak tau harus berbuat apa. Yang berakhir pada, i hate my self, so much.

Ketika semua sudah terjadi, i talk to my self. See? its have gone, youre really sucker. No one can be care to you. Ya, saya memang tidak berhak untuk menerima kepedulian dari orang lain. Because im not like that too. Saya memang pantas menerima semuanya, and i cant blame for anyone. Dari awal saya menyadari kalau memang ada yang salah. Its always wrong from the very beginning. Dan lagi-lagi saya teramat membencinya. 

Today, i was like semua memang tergantung bagaimana kamu memperlakukan orang lain. im not kind to others, so jangan mengharapkan orang lain akan berbuat padamu. Kamu akan menuai hasil dari apa yang telah kamu lakukan. If you cares, you can get that back. But if not, jangan sesekali berharap. And i know that. Jika suatu saat saya berada di posisi mereka, dont hope too much.

Namun dibalik semua yang sudah pergi, saya berharap mereka mengetahui that actually i am really care about them, so much. How much i talk to God, for them, semoga diberikan yang terbaik dan diangkat dari semua yang membuat mereka tersiksa. I just cant show them how i should react that. I really sorry for them. For that, i really hope that they can feel peace from above. Im sorry i can express my feeling, im really sorry, deep from my heart.

I hope they really happy now, im always thinking about i have done to you. Saya teramat menyesal, bagaimana bisa saya berbuat seperti itu, without thinking much, im really sorry for all. 


10 Mei 2019

Until the End

Jumat, Mei 10, 2019 0

Perlahan namun pasti. 
Waktu bergerak begitu cepat. 
Semua berproses, everything has changed so much. 
Satu persatu pergi dengan kehidupan baru mengharapkan kebahagiaan.

Semua sudah memiliki tujuannya masing-masing. 
Hanya tinggal diri sendiri tanpa siapapun yang dapat bertahan. 
Jika diteruskan entah dimana akhir perjalanan ini. 
Semua bergerak sangat cepat, keadaan, prioritas, dan alam semesta.

Tidak ada yang abadi. 
Semua punya prioritas masing-masing, tidak dapat bergantung. 
Sebelum masa hingga sesudah masa tidak bisa berharap pada yang lain. 
Mereka dengan kehidupannya telah menjadi sebuah perubahan prioritas. 
Yang tadinya satu hingga terpecah menjadi bagian-bagian. 
Sebuah penerimaan.

Tanpa tersadar waktu itu semakin dekat, ketakutan mulai membayang. 
Banyak hal yang dicari dan diinginkan. 
Namun waktu tampak tidak ingin bekerjasama.
Semua seakan tak peduli.
Your life, my life.
Okey, just lets live this life until its end!


11 April 2019

Sorry.

Kamis, April 11, 2019 0

Saat ini pikiran gue sangat terganggu. Entah karena orang lain, atau emang gue lagi bergejolak dengan diri sendiri. Dari dulu gue sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri, tapi ada di suatu masa gue sangat membutuhkan orang lain. Permasalahannya gue gak pernah bisa mengatakan kalau gue lagi butuh orang lain. Yang terjadi adalah gue memendam permasalahan itu sendiri. Bagaimana tidak gue merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini?

Akhir-akhir ini entah kenapa gue banyak bertanya pada diri sendiri. Apa yang salah pada diri gue, kenapa gue bisa begini. Jujur gue juga sudah lelah dengan semua ini. Semua terasa menyesakkan. Dan pada suatu titik gue merasa semua memang sudah salah sedari awal. Its wrong from beginning. Gue dengan kesalahan sekarang, tidak jauh beda dengan apa yang sudah gue lakukan dulu. 

Terperangkap di dalam tempurung. Gue belum berani untuk melihat keluar. Saat seseorang menarik gue keluar, gue kembali menutup tempurung itu rapat-rapat. Hingga gue rasa dia takut untuk mengulanginya lagi. Gue terlalu khawatir hal-hal buruk yang belum tentu terjadi akan menjadi kenyataan. Gue takut hal paling menyakitkan yang pernah gue rasa dulu terjadi di dalam hidup gue. Karena itu gue selalu merasa menjadi orang termenyedihkan di bumi ini.

Betapa besarnya rasa bersalah yang gue rasakan karena gue belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Gue sangat sangat merasa menjadi orang kesepian yang pernah ada. Gue takut semua orang tak akan pernah mengetuk kembali tempurung itu. Gue takut selamanya akan terperangkap. Gue takut selamanya berada disini, tanpa siapapun. Saat seseorang berungkap, gue menghakimi seolah itu kesalahannya. Padahal gue tau, itu murni kesalahan gue sendiri. AH, I HATE MYSELF. 

MAAF. ATAS SEMUANYA. MAAF.

14 Maret 2019

Kumpulan Sajak (2017-2018)

Kamis, Maret 14, 2019 0

Hidup terus berjalan. Umur terus bertambah. Dan jalan kehidupan seseorang akan berubah. Hingga pada saatnya ia akan kembali melihat jalan yang telah dilaluinya. Sejauh mana ketegaran hati dapat diandalkan. Sejauh mana kekuatan yang selama ini membentengi dirinya. Akan tiba pada masanya ketegaran dan kekuatan yang ia pertahankan akan runtuh. Ketika banyak hal yang telah terjadi, semua akan kembali pada satu titik. Titik dimana semuanya bermula. Dan menjadi titik akhir dari suatu fase.

Bagaimana jadinya ketika ia mengharapkan kehadiran seseorang yang telah lama hilang dari kehidupannya. Bagaimana jika hanya itu pengharapan satu2nya. Namun untuk mewujudkannya serasa mencapai bintang di angkasa, tidak akan pernah tercapai.

Dan ketika tiba momen sakral datang di kehidupannya, dan tidak ada orang penting disana. Saksi hidup dimana seharusnya ia berada, namun ia tidak disana. Betapa hampa dan hilang.

Karena itu, ia tidak mengharapkannya. Ia tidak mengharapkan momen itu terjadi karena ia takut rasa hampa yang selama ini menyelimuti hatinya akan selamanya menetap disana. Ia akan menjadi orang termalang dan tersedih di hari bahagianya. Betapa ia tidak ingin itu terjadi.

Hingga ia membuat keputusan untuk tidak membiarkan itu terjadi. Ia tidak ingin menjadi orang paling termalang yang pernah ada di muka bumi.

— Jakarta Utara, 29 April 2017


Setiap waktu akan ada sebuah pertemuan baru.
Baik itu dengan seseorang maupun sekelompok orang.
Yang membedakan dr setiap pertemuan itu adalah seberapa lama kita membiarkan orang tersebut ada dalam kehidupan kita.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama, namun ketika perpisahan menghampiri orang tersebut tak pernah muncul lagi.
Namun sebaliknya ada yang hanya beberapa hari bersama kita, namun ingatan tentang dia selalu melekat seiring bertambahnya waktu.
Ia tetap ada, saling berinteraksi dan bahkan semakin dekat. Intensitas sesorang mengenal orang baru tidak menjamin org baru tersebut berada lama di dalam kehidupan seseorang.
Bisa jadi dari sebuah perkenalan kecil malah berbuntut panjang dan berakhir dengan menghabiskan waktu seumur hidup.
Siapa yang tahu.
Malah orang lewat tersebut adalah jodohnya.
Siapa yang bisa menerka, toh semuanya tidak ada yang pasti,
termasuk jodoh.

— Lampung Tengah, 27 Juni 2017


Dunia baru.
Kita tak akan pernah tau kehidupan seperti apa yang akan kita jalani 5 hingga 10 tahun ke depan.
Layaknya seperti hari ini. Saya tidak pernah membayangkan pada 5 th yg lalu jika hari ini saya akan berada disini.

Mimpi-mimpi ketika muda kini entah kemana, berubah menjadi dunia yang penuh pemikiran panjang. Semua tujuan yg memuaskan hati berubah menjadi asal orang yang disayang dapat bahagia.

Bukan berarti penyesalan dalam keputusan ini. Namun, ada satu celah ketika hati berusaha utk meyakinkan diri. Ini benar-benar sudah jalan takdirmu. Jika memang tidak sesuai dengan ekspektasi, setidaknya kamu sudah membahagiakan mereka, dan membuatnya bangga. Itu sudah lebih dari cukup.

Bukankah memang itulah tujuan kehidupanmu yg sebenarnya?

— Jaktim, 10 Februari 2018


Perihal patah hati.
Sebenarnya saya tak begitu paham apa rasanya patah hati
Karena mencinta bagi saya sesuatu yang langka, hingga dia mengetahui nama saya

Awalnya tak ada yang menyangka saya akan begitu cepat jatuh hati padanya. Tutur katanya, cara dia menatap, cara dia berbicara adalah sesuatu yang selalu saya perhatikan. Cara dia berbicara membuat saya tak bisa lepas memandanginya secara diam-diam.

Ya, dari dulu saya sudah terbiasa mengagumi seseorang. Tapi rasanya tidak pernah yang seperti dia. Padahal kami baru saling mengenal selama 7 hari, dan rasa yang tumbuh di hati saya semakin besar setiap harinya.

Saya tak mengelak jika tiap hari saya merasa harus melihat wajahnya. Sesekali saya mencari sosok keberadaannya. Dengan melihatnya saja entah kenapa saya begitu bahagia. Ah, benar kata orang-orang jatuh cinta itu memang aneh dan tidak masuk akal. Eh, apa ini benar-benar cinta atau masih sebatas suka ataupun kagum?

Dan hari ini saya mengetahui fakta yang sangat mengkoyakan hati. Apalagi berita yang paling menyedihkan kalau orang yang kita suka ternyata sudah ada yang punya. Rasa suka memang tidak bisa diatur kapan dan pada siapa dia akan jatuh, tapi saya merasa rasa ini akan salah jika dilanjutkan. Yang ada hanya sakit yang dirasa.

Ya, mungkin memang belum waktunya saya. Atau saya menemukannya di waktu yang salah. Karena tidak ada yang tau siapa yang akan kita temui di masa depan maupun masa lalu.  Lagi-lagi saya harus mengalah. Perasaan ini tidak boleh ada.

— Ciawi, 15 Juli 2018


Hai my little me..
Bagaimana kabarmu skrg?
Apakah masih kamu yang suka mengurung diri?

Hello my little me..
Bagaimana perasaanmu skrg?
Apakah masih sering memendam hingga tak tertahan rasanya?

Aku disini sudah mencapai apa yang diimpikan semua orang
Masa depan yang kamu takutkan sudah berhasil kamu taklukkan
Kamu disana apakah masih memiliki kekuatan itu?
Kekuatan untuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak?

Ciawi, 30 Juli 2018


Hujan sore ini mungkin akan panjang.
Seolah ingin bertahan lebih lama untuk menyaksikan matahari ditelan malam.
Atau ia hanya sedang berbaik hari memberiku alasan utk tetap disini.
Termenung sendiri mensyukuri kita yg tak sempat saling berjanji.
Sejak dulu aku sadar betul bahwa
pada akhirnya ada yang harus pergi
apakah kesunyian atau dirimu.

— Jaktim, 19 Desember 2018

25 Februari 2019

Kegelisahan

Senin, Februari 25, 2019 0


Saya ingin bercerita tentang kegelisahan yang saya rasakan akhir-akhir ini.

Entah kenapa saya terlalu takut untuk melihat ke depan.

Dulu ketika memiliki mimpi saya tak sabar untuk menanti hari esok.

Setiap mimpi akan saya tulis satu-persatu, dan berusaha untuk mewujudkannya.

Tapi sekarang saya terlalu takut untuk bermimpi.

Bahkan untuk melihat ke depan saja tidak berani.

Saya tidak ingin waktu berlari begitu cepat.

Saya ingin tetap berada di waktu ini.

Disaat saya masih disini, dengan orang-orang tersayang.

Walapun sangat mustahil tapi saya berharap Tuhan mendengar.

Setidaknya tidak membuat putaran menggelinding cepat.

Saya takut hari itu akan datang.

Saat raga hanya tinggal sendiri.

Tanpa siapapun.

Tanpa satupun yang peduli.

Tanpa satupun yang mengenal.

22 Januari 2019

De Carpe Diem

Selasa, Januari 22, 2019 0
Carpe diem, adalah sebuah frasa dalam bahasa Latin yang artinya adalah: "Petiklah hari." (Horatius) Kalimat lengkapnya adalah: "carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti: "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok." 

Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok, dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal. 

(by :  WIKIPEDIA

Arti kata dari judul blog gue 'Carpe Diem' cukup tepat untuk menggambarkan bagaimana tahun 2019 akan berjalan. Masih dalam suasana tahun baru gue mengingatkan diri sendiri kalau waktu tidak akan pernah berhenti apalagi kembali. Sudah seharusnya gue berusaha untuk menghargai setiap detik waktu yang ada, yaitu dengan memaksimalkan mengerjakan sesuatu di hari ini dengan optimal dan tidak menunda untuk mengerjakannya di hari esok.

Hwaiting!
Happy 2019!
Happy New Year!
Happy ME :)))

13 Desember 2018

Keresahan di Penghujung Tahun

Kamis, Desember 13, 2018 0
Kalimat penenang di pagi hari yang saya dengar,

"Gausah khawatir dan cemas perihal jodoh, kalau sudah waktunya pasti akan dimudahkan".

Ya, pagi ini kalimat tersebut saya dengar dari sosok wanita yang melahirkan saya di muka bumi ini. Mungkin karena ikatan lahir dan batin sudah ada sejak di dalam rahim, itu sebabnya beliau tak perlu bertanya tentang keresahan yang saya rasakan. Beliau langsung mengetahui dengan menatap mata saja. Entahlah, terkadang saya hanya perlu dihibur dengan kata-kata "everything is gonna be okay".

Sebenarnya bisa dibilang saya tidak terlalu diambil pusing jika ditanya perihal jodoh. Dari dulu saya tipikal orang yang susah untuk menyukai orang lain terutama lawan jenis. Entah karena saya terlalu pilih-pilih atau hati saya sudah terlalu takut untuk dimasuki orang lain. Hanya sedikit mereka yang dapat meluluhkan hati yang sekeras batu ini. Tapi percayalah dari luar memang terlihat seperti batu, tapi jika ditelusuri ke dalam batu itu sangat lembek dan seringkali terpecah-belah.

Ketika seseorang berhasil membuka cangkang batu ini, saya akan serta merta melakukan apapun untuk dapat terus bersama orang itu. Kesetiaan sudah jangan ditanya lagi, saya akan berusaha untuk memberikan apapun untuk mereka yang sudah berhasil memporakporandakan benteng yang selama ini saya bangun.

Namun kenyataan ternyata tidak selalu berpihak. Ketika dia yang selama ini menjadi bayangan muncul, harapan untuk terus bersamanya tidak terlihat. Dia sudah lebih dulu berada di kapal orang lain. Dan apa boleh buat, batu ini akan mengeras kembali sampai datang orang yang berani untuk memecahkannya.

Sejauh ini jika ditanya soal pendamping, saya selalu tersenyum dan berkata, "santai aja.. dia pasti akan datang". Tapi entah kenapa di penghujung tahun kekhawatiran yang tak pernah saya rasakan mendadak muncul ke permukaan. Saya khawatir tidak akan ada yang mampu memasuki kerasnya benteng yang selama ini saya buat. Benteng yang dari awal sudah ada karena lingkungan membuatnya ada. Benteng yang secara perlahan menguat dan membesar seiring beragamnya mimpi buruk yang terus hadir. Benteng yang sebenarnya saya tidak ingin dia ada.

Entahlah, mungkin itu keresahan yang saya rasakan di penghujung tahun.
Takut tidak ada yang berhasil menghancurkannya. 
Takut tidak ada yang berhasil memasukinya.

24 September 2017

Menghargai

Minggu, September 24, 2017 0
Apa rasanya ketika kamu bekerja pada hal yang kamu senangi? Pasti akan terasa mudah dan menyenangkan. 

Pandanganmu soal pekerjaan akan berubah total saat kamu sudah merasakan seperti apa bekerja itu. Awalnya yang kamu pikirkan bagaimana caranya mencari kerja yang layak dan memiliki banyak uang namun pikiran itu berubah menjadi bagaimana mencari pekerjaan yang lingkungannya menyenangkan.

Tentu saja, setiap orang menginginkan pekerjaan yang sempurna, menyenangkan, dan jika mendapatkan gaji yang besar. Namun terlepas dari itu, kini pandanganku terhadap pekerjaan berubah total. 

Bagiku, sebuah pekerjaan akan terasa ringan jika kamu mencintai pekerjaanmu. Kamu akan mencintai pekerjaanmu jika lingkungan disekitarmu menghargai pekerjaamu. Menjadi seorang karyawan sering yang namanya tidak dihargai. Jarang diberikan pujian. Padahal, hal tersebut adalah satu-satunya hal yang diinginkan mereka ketika bekerja. Perasaan dihargai, ketika ia telah bekerja keras.

Namun sepertinya hal tersebut seringkali dilupakan. Berapapun gaji yang kita dapat, jika kita tidak dihargai semua akan terasa sia-sia. Semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa seperti beban.

Hmm, mungkin itu yang tengah kurasakan.

Sama

Minggu, September 24, 2017 0
Tidak ada yang berubah.
Semua masih tetap sama.
Aku, kamu, dia.
Dan juga perasaanku.

Bahkan, tempat yang kerap kita kunjungi bersama.
Masih memiliki aroma yang sama.

Entah kenapa tiap kali aku di tempat ini.
Hasratku ingin bertemu denganmu semakin tinggi.
Namun aku hanya bisa menguburnya.
Hingga jejak itu sirna seketika.

Kamu yang disana.
Pasti tidak mengira.
Kalau aku masih tetap mengingatmu.
Bahkan tidak berhenti sedetikpun.

Diam-diam aku masih mengharapkanmu.

─ Bandar Lampung (24 September 2017)

27 Oktober 2016

Dapatkah #Ngeblog Menjadi Sebuah Profesi?

Kamis, Oktober 27, 2016 2
Banyak orang bilang penulis itumau sampe kapanpun—gak akan membuat kaya seseorang. Menjadi seorang penulis tak layaknya seperti profesi lain semisal pekerja kantoran yang memiliki jadwal rutin setiap harinya, penulis bisa dibilang hanya dipandang sebelah mata. Ia tidak memiliki jadwal rutin ataupun tempat kerja. Bisa dikatakan, menjadi penulis tidak bisa dijadikan profesi utama dan juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia (harus) dibarengi dengan profesi lain yang bisa lebih menjamin sebuah proses keberlangsungan hidup. Atau lebih ringkasnya, profesi penulis (seharusnya) cukup dijadikan sebagai kerjaan sampingan ataupun hobby dikala ada waktu luang.   

***

Paragraf yang saya tulis di atas tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya salah. Namun beberapa kalimat tersebut bisa menggambarkan bagaimana profesi sebagai penulis itu dipandang oleh masyarakat awam pada umumnya. Memang, kalimat tersebut terkesan (sedikit) merendahkan profesi penulis, namun saya menulisnya berdasarkan apa yang telah saya dengar, lihat dan rasakan dari beberapa orang yang berprofesi sebagai penulis.

Oke, mari kita telusuri satu persatu alasan apa—menurut pandangan sayayang membuat paragraf tersebut tidak sepenuhnya benar ataupun salah. 

Tidak sepenuhnya benar karena masih ada beberapa milyader di dunia ini yang merupakan seorang penulis. Sebut saja James Patterson, JK Rowling, ataupun Stephen King. Mereka adalah bukti bahwa seorang penulis bisa menjadi orang terkaya di dunia hanya dengan menulis sebuah buku. Dan juga menjadikan penulis sebagai profesi yang (dibilang) banyak dilirik orang. Memang, jalan yang mereka lalui tidak sertamerta menjadikan mereka seorang milyader, namun bisa menjadi sebuah renungan bagi kita bahwa hanya dengan menuliskan kata-kata, seseorang dapat mengubah dunia, baik itu dunia orang lain ataupun dunianya sendiri.

Sedangkan tidak sepenuhnya salah karena memang ada beberapa penulis menyerah untuk mempertahankan profesinya tersebut. Hal itu dirasakan karena menjadi penulis tidak bisa menjanjikan seseorang dapat bertahan hidup. Banyaknya pesaing dengan tingkat kualitas yang beragam tentu membuat beberapa orang berfikir dua kali untuk menjadikan penulis sebagai profesi utama. Belum lagi dengan pasar yang tidak menentu, kapan penjualannya bisa laris ataupun turun tidak ada yang tahu. Terkecuali bagi mereka penulis yang sudah 'punya nama', hal tersebut mungkin tidak akan menjadi masalah.

Namun, dunia sudah berubah. Teknologi kian maju. Semua hal sudah bermain secara digital. Menulispun juga sudah mulai berpindah-aluan, walaupun yang lama masih tetap ada. Dari yang tadinya menorehkan tinta di atas kertas menjadi menekan tuts keyboard di laptop. Kemajuan zaman ini (seharusnya) bisa dimanfaatkan sebagai alternatif bagi orang-orang yang suka menulis namun belum cukup percaya diri untuk menjadi seorang penulis profesional. 

Berkat adanya sebuah blogmedia yang dapat membuat siapapun untuk memposting tulisan apapunbanyak orang mulai memperlihatkan kemampuannya. Sejak munculnya blog, semua orang bisa menjadi seorang penulis dan juga sekaligus menjadi seorang pembaca. Seharusnya apa-apa yang ditakutkan seorang penulis tadinya, seperti "Kalo gue nulis ada yang baca gak ntar ya?" atau "Tulisan gue ini bagus gak sih?" atau "Kalo gue terbitin jadi buku, ada yang beli gak ya?" sudah tidak ada lagi, semenjak adanya sebuah blog.

Di blog, kita bisa menulis apa aja dan orang lain bisa langsung menilai tulisan kalian. Dari bloglah semua kepercayaan diri itu (seharusnya) muncul. Dengan memposting sebuah tulisan di blog, secara tidak langsung kita terus berlatih untuk menulis semakin baik. Komentar, kritik atau masukan dari pembaca (seharusnya) bisa kita jadikan acuan sebagai motivasi untuk belajar dari kesalahan sehingga kita dapat menulis dengan lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Bahkan siapa yang sangka di masa sekarang, banyak orang di luar sana yang menjadikan blogger sebagai sebuah profesi?

Ya, berkat ketekunan, konsisten, dan kerja keras beberapa blogger bisa dibilang dapat memiliki penghasilan yang cukup menjanjikan. Semuanya diawali dari sebuah tulisan yang konsisten, tentang apapun itu, seperti menulis tentang teknologi, kuliner, daily life, atau yang lainnya. Yakinlah, satu persatu keberuntungan itu pasti akan datang menghampiri. Jika konten tulisan di blog tersebut bagus akan banyak yang memandang dan menawarkan berbagai macam hal yang tidak kalian duga sebelumnya. 

Jadi jika ditanya "Apakah Blogger itu Merupakan Sebuah Profesi?" atau lebih tepatnya "Apakah Blogger itu Layak Dikatakan Sebagai Profesi?"

Jawabannya terletak pada diri masing-masing. Sejauh mana kamu memandang dirimu sebagai seorang blogger. Banyak orang yang hanya bermodalkan internet saja (yang penting online) sudah dapat menghasilkan, jadi seorang blogger juga pasti bisa dong. Seperti membuka online shop di blog, menulis informasi bermanfaat, ataupun sharing tentang pengalaman pribadi, itu semua dapat dijadikan sebagai awal untuk profesi yang kamu harapkan nantinya. Yang terpenting, jangan dengarkan apa kata orang tentang profesimu, karena yang menjalani hidup itu kamu, bukan orang lain. Kalau nyaman, ya pertahankan.

Dari sisi saya, menjadi seorang blogger adalah wadah untuk menyalurkan hobi. Saya dapat menulis dengan leluasa hanya di blog, tanpa harus khawatir tentang apapun. Saya tidak memikirkan apakah tulisan ini dapat menjual atau tidak, yang terpenting saya dapat memanfaatkan keuntungan dari adanya blog yang dapat saya jadikan sebagai wadah untuk terus melatih kemampuan menulis yang saya punya. 

Semua orang pasti punya tujuan masing-masing, toh ya?
 
Jadi selagi #Ngeblog itu gratis dan tidak ada yang melarang, kenapa enggak dicoba aja? Mana tau cocok, ehem.. Dan kalau udah pas, pastinya bakal susah untuk melepas loh. Dan siapa sangka kalau di masa yang akan datang kamu dan blog malah jodoh dan tiba-tiba...
.
.
.
.
Kawin (eh maksudnya, jadi profesi sehidup semati gituh) Hihi..

Tapi, TETEP!! Sebaik-baiknya sebuah pilihan adalah pilihanmu sendiri.
Walaupun di masa yang akan datang kamu merasa bahwa pilihanmu salah, percayalah bahwa kamu tidak akan merasakan penyesalan yang mendalam. Karena pilihan itu datang dari hati nuranimu..

So, Could be a Blogger said as a Profession?
The answer is.. ITS YOUR CHOICE.


(Ditulis Dalam Rangka Memperingati Hari Blogger Nasional 2016)
Happy Blogger Day, Everyone^^
#HariBloggerNasional2016 

7 September 2016

Akhirnya S.Kom !!!

Rabu, September 07, 2016 2
"Setiap kebersamaan pasti akan berakhir, tapi kebahagiannya akan tetap abadi dalam kenangan.."

"Ah.. akhir-akhir ini gue jadi sering melow.."

Halo. Sudah bulan September. Terakhir ngeposting ternyata awal Juli. Hmm, apa-apaan ini! Lo ngapain aja HEH?! (ngomong sama diri sendiri)

Tenang, gue punya alasan yang jelas kok. Jadi gini...

Hmm..
Dengan hati plong akan gue umumkan kalo hari senin kemaren gue akhirnya sidang jugaaaaa!!!
Yeyeyeyeye. Alhamdulillah. Akhirnya ya. Setelah melewati jalan yang penuh dengan bebatuan, hari itu akhirnya datang juga. Jika pada hari-hari sebelumnya gue hanya bisa menelan ludah saat melihat temen-temen ngepost foto sarjananya, akhirnya kini sudah tiba saatnya giliran gue. Alhamdulillah, sekali lagi.

"Melewati jalan yang penuh dengan bebatuan", Itu benar adanya. Untuk bisa selesai sidang kemarin ini, gue harus melewati berbagai rintangan.

Pertama, menghadapi kenyataan pahit kalau sidang gue harus ditunda. Awalnya sidang gue dijadwalkan 30 Agustus, tapi tiba-tiba pada H-1 gue mendapatkan panggilan dari pembimbing 2 yang mengabarkan kalau beliau gak bisa menghadiri sidang gue karena ada acara pemda di Lampung Tengah. Hal tersebut otomatis menandakan kalau sidang gue harus dijadwalkan ulang hingga waktu yang pas.

Kecewa? Lumayan. Karena gue sudah mempersiapkan hampir semuanya. Dan lagi ditambah dengan target agar bisa sidang sebelum agustus berakhir, biar bisa dibilang lulus tepat waktu (4 tahun) (kata Sekjur). Tapi apalahdaya takdir berkata lain. Gue harus menelan ludah, dan mencoba untuk ikhlas menerimanya. Gue yakin Tuhan sudah mengatur yang terbaik buat gue. Mungkin kalau gue sidang pada hari itu hasilnya gak sebaik jika gue sidang pada hari senin kemarin.

Akhirnya setelah gagal sidang gue kembali mondar-mandir kampus untuk memastikan jadwal reschedule sidang gue kembali. Setelah beberapa hari baru bisa ditetapkan kalau jadwalnya diatur kembali di hari senin tanggal 5 September.

Hari H sudah tiba, gue mencoba untuk tenang. Usaha telah gue lakukan untuk belajar semampu gue. Di tengah perjalanan menuju kampus lagi-lagi cobaan menghadang. Mobil yang gue kendarai tiba-tiba mengeluarkan suhuh panas (overheat). Gue berhenti, dan nelfon emak. Beliau bilang suruh mintaan bantuan orang yang lewat di sekitar sana. Kebetulan gue berhenti di daerah pramuka. Gue berdiri di tepi jalan memilih orang yang akan gue mintai pertolongan. Tapi, kayaknya semua orang lagi buru-buru, berhubung saat itu jam 9 di hari senin.

Akhirnya karena gak ada yang gue berhentiin, gue beraniin diri untuk minta tolong sama mas-mas di warung deket mobil gue berhenti.

"Permisi mas," Sapa gue.
"Iya," Kata si masnya (yang waktu itu lagi telanjang dada).
"Ini mas, mobil saya mogok. Saya boleh minta bantuannya?" Kata gue dengan berani dan waswas kalo si masmasnya kagak mau nolongin.
 "Oh iya, iya. Bentar ya," (si masnya make baju dan menghampiri gue)
(Gue lega setengah mati masih nemu orang baik disini)

Akhirnya gue jelaskan kalau radiator mobil gue udah rusak, dan air di dalamnya juga gak ada. Gue minta tolong mamasnya buat ngisiin air ke radiator. Saat itu gue lagi megang satu botol air mineral dan langsung gue kasih sama si masnya. Namun ternyata airnya masih kurang. Si masnya dengan sukarela mengambil satu ember berisi air dari warungnya dan mengisinya kembali.

Saat melihat masnya mengisikan air, ada bapak-bapak yang datang dan menghampiri gue.

"Kenapa mobilnya puja?" Katanya.
Gue mikir, siapa ya nama oom ini. Setelah mikir bentar, gue inget. Om Cipto. O iya iya. Suaminya temen si mami.
"Ini om, airnya abis tadi waktu berangkat gak di cek dulu" Kata gue.
"Oh gitu.."
"Kok bisa tau saya disini om?" Tanya gue penasaran.
"Iya, ini om liat plat mobilnya," 
"Oh gitu, Iya ya."

Ooh beruntunglah gue saat itu. Om cipto juga ikut membantu si masnya saat mengisi air. Setelah selesai Om Cipto mau ngasih duit ke si mamasnya, tapi ditolak. Alhamdulillah ternyata masih ada orang baik dan tulus di dunia yang kejam ini. Gue mengucapkan terima kasih banyak sama mamasnya dan om cipto karena sudah mau menolong gue yang saat itu takut bakalan telat pergi ke kampus.

Tapi alhamdulillahnya gue ke kampusnya lebih cepat 2 jam dari jadwal sidang, sehingga sejamnya bisa dihabiskan saat mengisi air radiator mobil tadi.

Nyampe kampus jam 9. Jadwal sidang jam 10. Alhamdulillah gue masih punya waktu 1 jam untuk menenangkan diri. Jam 10.15 sidang gue dimulai.

Jeng.
Jeng.
Jeng.

2 jam kemudian.
Gue keluar jam setengah 1. 
Sudah dengan title S.Kom di belakang nama.
Alhamdulillah.
Gue sengaja gak menceritakan bagaimana proses sidang di dalam. Biarkan memori ini saja yang akan selalu mengingat. Ceilah. Hihi. Artinya jika sebelumnya banyak ujian menghadang gue itu sebenarnya hal yang membuat gue semakin kuat dalam menghadapi ujian yang sebenarnya. Jadi hal tersebut bukan memperparah kondisi gue malah menjadikan semakin percaya diri dalam melaluinya.

And now, saatnya kembali menentukan tujuan hidup. Setelah lulus mau jadi apa (?) Kerjakah? Atau Lanjut S2 kah?Pilihan itu berada di tanganmu.

Terima kasih mami papi, dan teman-teman tersayang.
Semoga kita semua sukses dalam artian masing-masing.
Aamiin.
SEMANGAAAAAT!






30 Juni 2016

Membuat Benteng Kebenaran

Kamis, Juni 30, 2016 0
Dalam kehidupan ini, ada fakta yang tidak ingin saya ungkapkan kebenarannya. Sejauh apapun mereka mencari tahu dan ingin tahu tentang itu, saya selalu mengalihkan dan menutupinya. Walaupun dari segi kelogisan sudah tidak bisa lagi ditutupi, saya akan terus membungkam dan tidak akan memberi tahu kebenarannya.

Entah sampai kapan saya bisa bertahan, tidak ada yang tahu. Akankah kebenaran ini menang pada akhirnya? Ataukah ia akan terus berada di belakang tertutupi dengan kegelisahan yang berkecamuk? 

Setiap orang pasti memiliki hal yang ia tidak ingin orang lain mengetahuinya, bahkan orang terdekatnya. Bagi saya, kebenaran itu begitu menyakitkan. Membayangkan orang-orang mengetahui fakta itu membuat saya begitu terpojok dan tidak berarti. Karena itu, hingga saat ini saya bersikeras untuk menutupi kebenaran yang sudah tidak bisa lagi diubah.

Namun saya tak pernah tahu hingga kapan benteng pertahanan yang saya buat untuk menutupi fakta tersebut akan bertahan. Bagaimana jika suatu saat nanti hempasan angin dahsyat datang dan memporakporandakan semuanya. Bagaimana jika semua orang tahu kebenarannya. Apa yang harus saya lakukan. Saya belum mempunyai kesiapan akan hal itu.

Satu hal yang saya tahu pasti, benteng tersebut tetap akan runtuh pada satu momen besar yang sangat saklar. Momen dimana tidak ada lagi dinding yang bisa menutupi kebenaran itu. Momen dimana semua orang akan mengetahui fakta dari kebenaran yang selama ini saya elakkan. Dinding itu tetap akan runtuh, seperti debu yang tertiup angin hinggap di setiap sudut yang berada di sekitarnya.

Apakah itu akan menjadi suatu kejutan, atau ketidaksangkaan? Saya yakin semua orang akan terkejut dengan tipu muslihat yang saya buat demi menutupi kebenaran tersebut. Hingga saat momen itu tiba, saya belum pernah siap menghadapinya. Karena diam-diam saya berharap momen itu tidak akan pernah datang. Dan benteng pertahanan yang telah lama saya bangun akan tetap utuh.

...Dan kebenaran itu tidak akan pernah muncul ke permukaan...

30 Mei 2016

Betapa Kejamnya...

Senin, Mei 30, 2016 1
Waktu akan terus berjalan dan berlalu, tapi tidak dengan kenangan.

Mungkin kita ditakdirkan berbeda dikarenakan akan kenangan masa lalu kita. Kita menjadi seorang manusia dengan pribadi seperti sekarang, tidak jauhnya merupakan pengaruh dari kejadian di masa lalu. Kita yang menjadi kejam dan tempramental, juga bisa saja disebabkan akan memori di masa lalu. Namun apa bisa dikata, kita tidak akan pernah bisa mengubah kenangan itu.

Kenangan yang sangat ingin kita bungkus dan buang di tempat yang entah dimana berada, tetap saja hadir ketika cuplikan yang sama kembali menyapa. Seperti halnya sebuah film, dengan rentetan scene kilas balik, kembali memainkan setiap jengkal dari memori itu. Yang dalam seketika mengingatkan kembali akan memori yang seharusnya sudah enyah ditelan waktu. Ia memang hanya melintas namun sangat begitu membekas.

Kita menjadi lemah tak berdaya saat kekerasan dan pembentakan menyergap, adalah salah satu akibat dari kejamnya pengaruh kenangan masa lalu. Hal yang membuat kita tidak pernah bisa berubah membuktikan betapa dahsyatnya pengaruh memori dan kenangan di masa lalu. Seberapa kuat kita berusaha untuk menghilangkannya, maka akan semakin jelas memori itu mengulang. Dengan tanpa rasa bersalah, menghadirkan setiap detik tersedih dan terkejam yang pernah ada. Mengulang kembali kejadian yang jika kita ingin tak pernah dan tak harus ada. 

Kita sekarang, dengan lugunya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Siapa dalang atas semua kejadian di masa lalu yang sangat ingin kita lupakan dan hapuskan ─ namun tidak sanggup. Kepada siapa kita harus melampiaskannya? Semua orang menyalahkan atas sikap kita yang kurang ajar. Namun tahukah mereka bahwa merekalah yang membuat kita menjadi seperti ini. Mereka tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan di masa lalu sangat berdampak bagi kita di masa sekarang dan itu... membekas. Bekas yang kita sendiri tidak tahu, bisakah ia hilang dan pergi meninggalkan kita.

Sekarang saat semua hal buruk telah kita lakukan ─ yang mereka sangka murni atas kemauan kita sendiri ─ telah terjadi mereka mengutuk, menyalahkan, dan menghakimi kita. Kita geram, muak dan bingung harus berbuat apa. Kita hanya tidak tahu ada apa dengan diri kita sekarang.

Dan yang kita tahu hanya kita menjadi seperti ini, bukanlah atas kehendak diri kita. Melainkan atas kemauan mereka sendiri, yang secara tidak langsung menginginkan kita seperti ini.
Kita seperti ini akibat kejamnya kenangan masa lalu.

***

15 Maret 2016

Aku dan Masa Lalu

Selasa, Maret 15, 2016 0
Ada beberapa peristiwa, tempat, bahkan manusia yang sangat lekat di memori. Tak bisa terpisahkan sejauh apapun diri melangkah. Sejauh apapun kaki beranjak pergi, jejak akan tetap tinggal disana tak akan terhapus walau dimakan waktu. Cerita masa lalu ini akan terus kembali berulang dan selamanya terulang.

Masa lalu bak kaca spion, yang hanya boleh dilihat sesekali agar dapat mengintropeksi diri. Jika terlalu sering melirik ke belakang kau akan jatuh dan jauh tertinggal dari masa depan. Namun apakah yang kau lakukan ketika waktu mengajakmu kembali menuju jejak masa lalu itu? 

Haruskah kau datang padanya dan melihat apakah yang tertinggal disana masih tetap utuh dan sama seperti dulu? Atau kau dengan pongahnya tak seincipun berani menoleh kesana dan membalikkan badan mengganggap semua sudah sirna?

Aku dan masa lalu, ikatan kami sangat erat. Bahkan sampai jiwa terlepas dari raganya ia akan tetap menghatuiku, mengikutiku, dan selalu bertanya pada kepalaku. 

"Apakah yang kau lakukan terhadapku selama ini sudah benar?
Apakah tindakan pongahmu yang selama ini menggangapku tak ada ini sudah benar?
Haruskah aku pergi untuk selamanya dari hidupmu?"

Namun sekuat apapun aku berusaha untuk berpura-pura tidak merasa, aku tahu ia selalu ada di dekatku. Dimana pun. Kapapan pun. Setiap detik hembusan napasku, masa lalu itu tak akan pernah pergi. Setia mengikuti jejak kakiku. Entah nanti ketika aku berada di atas dan memiliki segala hal yang diimpikan, kutau ia akan setia berada disana. 
Di tempatnya. 
Di alirah darahku.

Lampung Sering Mati Listrik?

Selasa, Maret 15, 2016 0
Bingung gini ya.

Setiap malam selalu mati lampu, ya seperti malam ini. Akhirnya bingung mau ngapain, soalnya mau ngapain aja susah. Makan susah, nonton susah, maen hp susah (karena gak bisa ngecas), tidur suah (karena nyamuk pun bergentayangan), belajarpun  jadinya ikut susah (kalo yang satu ini sih jadi alasan aja).

Gue bingung sebenernya ada apa dengan listrik di Lampung? Kenapa dari tahun lalu sampai sekarangpun mati listrik selalu menjadi langganan masalah bagi masyarakat disini. Bukannya apa-apa sih, kalau matinya masih sekali tiga hari itumah masih wajar. Tapi kalau udah tiap hari gak pernah absen bahkan hari ini sempat tiga kali dalam sehari, wah itu bukan lagi masalah kecil. Ini sudah menjadi salah satu prioritas problem yang harus dicari dan dipecahkan solusinya.

Jadi atas semua ini siapa yang harus disalahkan? Pemerintah kah? Atau malah PLN? Atau mungkin harus mempersalahkan tenaga listrik yang sampai saat ini (sepertinya) masih kurang memadai. Tahun lalu gue pernah mewawancarai pakar energi geothermal. Menurut beliau Lampung memang masih minim akan tenaga pembangkit listrik. Mirisnya Lampung juga masih bergantung pada pembangkit provinsi tetangga. Terus meningkatnya kebutuhan masyarakat (yang juga semakin bertambah) terhadap listrik, membuat pembangkit tidak kuat untuk menahannya. Ibarat neraca, pembangkit listrik dan kebutuhan masyarakat Lampung akan listrik sudah berat sebelah alias tidak seimbang.

Lalu apakah sebenarnya solusi yang tepat untuk menangani ini?
Tambah pembangkit kah? Manfaatkan energi geothermal kah? Tambah daya kah?

Sebenarnya gue juga kurang paham dengan apa yang sebenarnya menjadi inti permasalahan. Karena bukan pakarnya, dan hanya tau sedikit saja gue kira pembangkit listrik di Lampung memang harus ditambah. Mungkin ada yang bilang tidak memungkinkan, karena adanya faktor tempat, biaya, atau apapun itu. Yang gue tau, sebagai masyarakat gue dan lainnya merasa ini sangat mengganggu, dan berharap pihak yang berwenang bisa mengatasinya.

Kasian kan kalau ada yang pengen belajar karena besok mau ujian jadi gak bisa karena gak ada cahaya. Kalau dipaksain pun takutnya malah matanya yang rusak. Kalau malem gak bisa belajar besok gak bisa dapet nilai bagus. Dan kalau gak dapet nilai bagus jadi gak bisa lulus? Dan bagaimana bisa generasi muda menjadi generasi penerus dan pelurus bangsa? Duh, sedih kan?

Maka dari itu gue menulis ini sebagai perwakilan masyarakat atau bahkan pelajar yang ada di Lampung supaya masalah listrik ini tidak berlangsung lama. Apapun masalahnya gue mohon pihak berwenang dan para pakar dapat mengatasi listrik yang sering mati ini. Kami bergantung padamu, wahai listrik penerang cahaya malam...

Dari : Mahasiswa tingkat akhir yang masih galau karena sampai sekarang skripsinya belum mendapatkan progress yang berarti.


1 Juni 2015

Terima Kasih, Natural

Senin, Juni 01, 2015 0

Setiap ada awal, akan ada akhir yang setia menunggu.

Usai sudah perjalanan panjangku sebagai seorang pimpinan di suatu organisasi. Organisasi yang bagiku sudah seperti rumah kedua. Dengan segala suka duka dan aral yang menghadang, alhamdulillah amanah itu telah berakhir. Banyak hal yang aku dapatkan selama menjabat sebagai pimpinan. Bagaimana mengatur jadwal, menguraa emosi, dan kesabaran saat berusaha untuk tetap berjalan dan bertahan.

Organisasi ini sudah mengajarkanku bahwa keluarga itu saling menguatkan. Saat seorang terjatuh yang lain akan setia membantu. Di awal mengemban amanah ini, aku sempat ragu dan bertanya dalam hati, "Apakah aku mampu, dengan segala kekurangan yang ada pada diriku?". Waktu telah menjawab, aku bisa dengan keluarga yang saling bertopang tangan, kekurangan itu berusaha untuk aku tutupi dan terus melangkah dan membawa organisasi terus ke depan.

Aku tau tak banyak yang telah aku berikan untuk keluarga ini. Tak banyak hal berarti yang aku ciptakan. Namun, aku percaya tidak ada perbuatan yang sia-sia. Terima kasih Natural, terima kasih atas segala ilmu dan pelajaran selama 3 tahun ini. Terima kasih kepada kakak-teman-adik Natural yang telah membantuku menjalankan amanah. Maaf atas segala kesalahan, kekhilafan, keburukan yang aku lakukan. Maafkan aku yang sering mengeluh dan merasa terbebani.

Sungguh, tidak ada maksud untuk tidak ikhlas dalam melaksanakan amanah.

Sekali lagi terima kasih atas segala kenangannya.

Semoga Natural dapat menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Aamiin.

(*Ditulis sehari setelah di demisioner sebagai Pimpinan Redaksi di UKMF Natural FMIPA Unila)

12 Mei 2015

Arah Bola Mata

Selasa, Mei 12, 2015 0
Saat itu aku tengah berada di suatu tempat, di ruangan terbuka. Angin berhembus, dedaunan bergoyang, dan orang lalu lalang. Pandanganku menggeliat kesana kemari tak tahu araha yang dituju. Gerombolan manusia asyik tertawa bercengkrama. Seorang pedagang menghampiri menawarkan dagangan. Aku mencoba menerka. Apakah pada saat itu manusia yang sedang tertawa itu akan membeli dagangannya? Tanpa berpikir panjang salah satu di antara mereka mengeluarkan beberapa uang ribuan dan membeli.

Langit tampak cerah dengan sedikit awan mendung yang malu-malu mendekati. Tampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Bola mataku terus menjelajah. Seorang bapak datang menghampiri. Dia duduk. Membawa lembaran koran, tabloid mahasiswa, handphone, dan headset. Helm yang dikenakannya diletakkan diatas meja yang terbuat dari semen. Dengan headset yang terpasang di telinga ia membuka koran dan mulai membacanya. Jika dilihat dari tampilannya bapak tersebut adalah seorang pekerja. Pertanyaanya mengapa bapak tersebut disini?

Mataku menatap ke arah lain. Bundaran dengan air mancur terlihat begitu indah dan sejuk. Hawa segar seakan meresap ketika menyaksikan air mancur bundaran itu. Lingkaran bundaran dengan kendaraan yang lewat tak berhenti terus berputar mengitari air mancur tersebut. Ada daya tarik tampaknya disana. Yang siapapun tak menyadarinya. Hanya mata yang bisa mengatakan. Dan kemudian berpikir dan merasakan.

 
Selasa - 12 Mei 2015 at Beringin Unila.


6 Mei 2015

Aku dengan Ketidaktahuanku

Rabu, Mei 06, 2015 1
Cinta. Dari dulu hingga sekarang kayaknya masih sama. Masih tidak mengerti apa sesungguhnya makna dari kata berjuta ekspresi itu. Orang bisa seketika tertawa, bahagia, gembira atau bahkan kecewa, sedih hingga bunuh diri hanya karena masalah  cinta. Bisa dibayangkan seberapa besar kekuatan cinta?

Cinta. Beragam macamnya. Kepada makhluk hidup ataupun mati. Kepada binatang, tumbuhan ataupun manusia. Kepada keluarga, teman, sahabat ataupun lawan jenis. Ketika rasa cinta menyatu, gejolak tak ingin dipisah semakin bergelora. Apa ini semacam efek sebab akibat?

Aku dengan keterbatasanku mengenai cinta sungguh tidak tahu apa-apa. Hanya menyaksikan, mendengar dan merasakan sensasi orang-orang bercerita cinta. Mata bersinar, suara bersemangat, napsu menaik atau mood membaik hanya karena akibat gelombang cinta. Bahkan akupun seakan ikut merasakannya.

Aku dengan ketidaktahuanku tentang cinta hanya bisa menerka. Apa Tuhan sudah menakdirkan semua manusia tanpa terkecuali menikmati keluarbiasaan cinta? Apa ada orang di luar sana yang tidak pernah merasakannya? Mungkin ada. Orang yang miskin cinta akan memberontak tak terima, mengeluh bahkan berteriak pada ketidakadilan. Mengapa orang lain diberi sedangkan ia mencicipipun tidak?

Aku dengan kepolosanku tentang cinta hanya bisa berharap. Kelak ketika keterbatasan, ketidaktahuan, dan kepolosan pergi dan berubah menjadi kemengertian yang pasti. Aku akan mengingat hari dimana ketidaktahuan itu menjadi penolong di kala orang-orang berteriak pada cinta. Kini menjadi pendengar sejati, kelak aku menjadi pihak yang didengarkan semua keluhannya. Semua tentang masa lalu, masa depan dan tentu tentang hidupku.