30 September 2013

# curcol

Gempa

Saat bumi berguncang, saat dimana akal pikiran tak lagi di badan..
Saat bumi bergoyang, semua lari tak tau arah...
Panik, takut, bercampur jadi satu...
Dengan terus mengucap lafaz Allah beriring air mata...

Mungkin itulah yang pernah gue alami sendiri. Melihat semua manusia berlari seakan-akan bumi ini akan hancur. Aspal akan terbelah dan kami benar-benar takut. Takut nyawa ini tak lagi di badan. Tangisan darah bersahutan menikam semua insan yang berada dalam kepanikan. 

Kalo ditanya tentang pengalaman merasakan gempa mungkin gue termasuk yang mempunyai banyak cerita. Dari kecil hingga sma, gue tak lepas dari ketakutan trauma dengan gempa. Puncaknya 6 maret 2007 dan 30 september 2009.

Saat itu gue masih bersekolah di pesantren di padang panjang. Waktu itu gue berada di lantai 2, karena memang kamar gue disana. Kebetulan kami juga sedang libur mempersiapkan ujian mid semester. Saat asik bersantai dengan teman-teman, tiba-tiba bumi berguncang hebat. Lantai kamar yang terbuat dari kayu membuat saya begitu merasakan guncangan itu. Panik, kami langsung berlarian menuju lantai bawah.

Dengan pikiran yang tak lagi dibadan, pada saat itu gue langsung berlari menuruni tangga. sehingga badan ini langsung berguling sampai kebawah. Gue gak merasakan sakit apa-apa. Yang dipikiran gue, asrama itu akan rubuh. Gue benar-benar takut. Sangat takut. Apalagi kami jauh dari orang tua. Jadi banyak diantara kami yang shock dan menangis saat gempa sudah agak mereda.

Tak cukup sampai disitu, beberapa jam lagi gempa kencang kembali menghujam. Kami yang sudah berkumpul di lapangan, kembali histeris sehingga para ustadzah menyuruh kaami untuk tetap melafazkan nama Allah. Gue melihat sendiri bagaimana kaca asrama pecah, bumi berguncang hebat. Gunung disamping seakan akan rubuh, gue takut. Hingga kini gue masih ingat persis kejadian itu. 

Malamnya gue merasakan apa yang sebelumnya gue liat di tv. Tidur di tenda. Makan sepiring bersama. Malam itu gue gak makan dan gak bisa tidur. Yang ada di pikiran gue hanya pulang. Mau tak mau besok gue harus pulang, kalo bisa sekarang juga. Hingga akhirnya besok gue dijemput sama seseorang yang kini tak gue temui lagi. Gue nangis dipelukannya. Gue sangat lega berada di dekatnya.

Hingga kami libur beberapa bulan karena bencana itu. Dan sampai pada gue harus masuk asrama lagi. Gue liat semuanya udah hancur. Tugu di depan pesantren sudah hancur setengah. Gue masih dilanda trauma takut jika gempa itu muncul kembali. Gue nangis gak mau balik, tapi mami gue berusaha menguatkan hati gue. Hingga akhirnya gue bisa bertahan melawan trauma atas kejadian itu.

Dan ternyata bukan sampai disana saja kecemasan yang pernah gue alami. Tamat dari pesantren gue melanjutkan sekolah ke maninjau. Baru beberapa bulan disana gue kembali dihantui bayang-bayang kejadian 2 tahun lalu. Kejadian yang berusaha gue hapus dari memori, muncul lagi. Dan lebih menyeramkan.

Ketika itu 30 september sore, kami satu angkatan tiba-tiba saja ada jadwal olahraga. Padahal sebelumnya jadwal kami itu hari jumat. Entah mengapa, hari itu dipindah jadi hari rabu. Kami yang hendak menyelesaikan pekerjaan rumah seperti nyuci, mandi langsung mengoceh. Kenapa mendadak gini sih, ujar kita kesel.

Namun akhirnya kita tetap menuruti perintah guru olahraga kita itu. Kami keluar dan baris hendak menuju lapangan. Ternyata hari itu kami akan latihan lari, akrena minggu besok akan diambil nilai lari. Dengan berat hati kami berlari pelan. Tak sampai satu putaran teman gue teriak, "ada gempaaa" Gue yang masih berlari shock tak percaya hanya bisa bingung, beberapa detik kemudian gue merasakan apa yang suadah lama gue rasakan dulu.

Bumi kembali berguncang hebat. Bukit yang ada dibelakang gue saat itu luruh, menciptakan bunyi gemuruh yang luar biasa. Gue panik, gue hanya mendengar petunjuk teman yang ada di depan gue. Bahwa kita harus lari ke depan aula. Karena memang dalam keadaan lari, gue lanjutkan lari kedepan dengan jantung yang sama pada 2 tahun yang lalu.

Kepanikan itukembali gue lihat. Isak tangis mulai terdengar dimana-man. Gue berusaha tetp tenang, walau dalam hati gue sangat cemas. Gue berada jauh dari orang tua, sama seperti dulu. Hingga malamnya gue izin untuk pergi ke rumah tante yang ada di lubuk basung. Disana gue temui kepanikan yang sama. Malamnya kami gak tidur mengkhawatirkan jika ada gemap susulan.

Hingga beberapa minggu kami libur. Sampai kami kembali ke asrama, banyak yang berubah. Gue takut untuk melanjutkan sekolah disana. Tapi karena lagi-lagi mami menguatkan gue untuk tetap lanjut, akhirnya gue bisa bertahan disana.

Hingga kini, 4 tahun sudah berlalu namun ketakutan itu selalu ada dalam diri ini. Gue masih takut dengan yang namanya gempa. Mungkin karena sering merasakan yang besar, gue begitu parno jika terjadi gempa yang kecil. Trauma itu masih ada. Takut jika nyawa ini tak lagi di badan.

Kini, 30 september 2013 semua sudah tak terlihat lagi dampaknya. Semua berangsur-angsur membaik. Semoga memang untuk selamanya.

(Memperingati 4th Gempa besar di SUMBAR [G 30 S]) 30 sep 2009-30 sep 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)