20 Agustus 2013

# cinta # curcol

Bermusuh Jarak...

Hidup itu tak pernah tau arah jalannya. Entah suatu saat kita akan bertemu sesorang yang akan menjadi pendamping hidup kita di suatu tempat. Itu adalah misteri sebuah hidup. Mungkin ada pula seseorang zaman dulu yang tak pernah lepas dari ingatan kita, sampai suatu saat... kita mendengar berita itu... berita tentang dirinya. Namun kita mencoba untuk tidak mempedulikannya, padahal dalam hati paling dalam ini sakit sekali. Mencoba untuk tetap tegar dan mendapati bahwa ia telah memiliki hati lain sangatlah menyakitkan.

Kucoba untuk terus menerima kenyataan ini, karena memang inilah jalan hidup. Yang tak tahu kemana arus akan berjalan. Atau mungkin memang karena ada jarak yang menjadi pembatas segalanya. Terkadang aku selalu mengutuki jarak sialan ini. Kenapa dia begitu teganya menghampiriku disaat kutemukan seseorang yang beda dimataku? aku yakin, jika jarak ini tak ada jalan hidupku akan berbeda, tak seperti ini. Sendiri, bermusuh jarak.

Mungkin kalian terheran-heran dengan apa yang aku katakan ini. Tapi, memang jika kalian berada di posisiku kalian juga akan sangat menyesalkan semua ini. Disaat kalian mulai saling mencintai, menyayangi, merasa nyamat didekatnya namun tiba-tiba jarak itu datang, mengganggu kemesraan yang tengah berda dipuncaknya. Geram, kesal, kecewa, sedih dan putus asa. Aku meratapi garis hidupku ini dengan berharap suatu saat jarak ini akan berkompromi denganku. Menyelasaikan semua dendam yang pernah ada diantara kami.


Namun sekali lagi, itu hanya sebatas harapan yang semu. Tak ada yang tahu jalannya nanti akan seperti apa, seperti sekarang saja contohnya. Tatapan dia yang begitu membuatku malu kini dialihkannya pada orang lain. Rayuan genit yang dulu untukku kini berpindah haluan pada orang lain. Dan hati yang dulunya hanya untukku seorang kini telah mendarat di hati yang lain. Aku kesal, sedih? Pastinya ‘ya’. Tapi aku sama sekali tak menyalahkannya? Aku sama sekali tidak membencinya. Bahkan aku masih sama seperti dahulu, menyayanginya. Aku hanya benci pada jarak yang selalu bergulat sengit di hidupku. Tanpa mau mendengar apa yang kumau. Dan kini, biarlah semua berjalan sesuai jalannya, aku berpasrah dengan keadaan yang tak mungkin lagi bisa kuubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)