17 April 2014

# cerpen

Terpendam Part #1

source : here.

Malam itu, tepatnya tanggal 15 April kamu kembali menghubungiku. Kamu memang tidak langsung menelponku, hanya mencoba mengirim pesan Blacberry Messenger (BBM) kepadaku. Setelah hampir setahun kita tak lagi saling berkomunikasi, malam itu kamu mencoba kembali merasuki celah-celah pikiranku. Otakku tak bisa dicegah untuk kembali mengingat semua tentangmu. Semua tentang kita.

Selama ini, selama kita tak saling bertemu aku terus berusaha untuk melupakanmu. Pernah suatu kali aku delcont kamu dari kontak bbmku. Kenapa? Agar aku bisa dengan leluasa menghilangkanmu di bayanganku. Namun tampaknya kamu tak mengerti, kamu mencoba re-inviteku kembali. Aku terima, agar tak ada prasangka buruk darimu.

Kukira dengan aku berusaha untuk tidak lagi memedulikanmu, aku akan bisa menghilangkan semua jejak tentangmu di memoriku. Namun ternyata prakiraanku salah. Malam itu jantungku entah kenapa (masih) berdebar ketika kamu mencoba untuk menggodaku walaupun hanya lewat kata. 

Aku masih merasakan degupan itu. Degupan yang kurasakan dua tahun lalu. Padahal kita tak pernah lagi saling bertemu atau berkomunikasi via telepon. Tapi entah mengapa desiran itu masih menjalar di tubuhku? Aku tak tau apa yang terjadi padaku, mengapa semua hal tentangmu tiba-tiba membuncah begitu dahsyatnya di pikiranku?
  
Kepala dan hatiku berkontraksi bgitu hebat. Aku memaksa otakku untuk kembali mengingat semua yang pernah terjadi diantara kita. Yang paling kuingat, terakhir kali kita bertemu itu pada tanggal 21 April 2012. Aku menghilang dari kehidupanmu begitupun denganmu. Padahal belum sempat ku menyadari rasa yang menjalar di suatu tempat, aku harus rela pergi meninggalkanmu. Sungguh aku tak kuat dengan keterpisahan kita. Aku membawa segudang pertanyaan untukmu. Aku pergi tanpa tahu waktu kembali.

***

Semuanya berawal pada sore itu, ketika aku dan Steven sedang mengobrol seperti biasa di taman kota di kota Layangan. Aku dan Steven sudah saling mengenal selama lebih dari tiga tahun. Kami tak pernah mengalami percecokan yang begitu serius. Sifatku yang senang dengan humor sedangkan sifatnya yang sabar membuatku senang berada di sampingnya.
  
Langit sore kala itu sangat indah, tidak terlalu panas ataupun mendung. Sejuk. Awan putih menutupi sebagian langit biru yang sudah mulai luntur kebiruannya.

“Hmm... kamu ngerasain gak akhir-akhir ini sikapku ke kamu berubah?”

Pembicaraan Steven sore itu tiba-tiba saja tidak seperti biasanya. Aku menghirup udara yang berbeda pertanyaanya.

“Hmm...gimana ya, enggak juga ah” jawabku enteng.

“Masa iya, coba deh kamu sadari apa yang akhir-akhir ini sering kulakukan,”

“Emang apa ya,” Aku mencoba mengingat semua yang dilakukannya. Memang akhir-akhir ini dia begitu perhatian padaku. “Hmm... iya sih, kamu kayaknya begitu care padaku,” ucapku seraya menatap matanya.

“Kamu tau apa sebabnya?” Lagi-lagi dia kembali mengajukan pertanyaan kepadaku. Dia memasang mimik muka yang serius. Melihat itu aku berusaha untuk menjawab pertanyaannya dengan candaan seperti biasanya.

“Enggak tau. Emang ada apa sih, Stev?”      
                               
Aku menatap bola matanya, dan mengisyaratkan pada air mukaku bahwa ada rasa keingintahuan disana. Aku penasaran.

“Karena... aku... suka... kamu,” Steven menjawab keingintahuanku dengan sedikit gugup. Namun tetap bola matanya menatap lekat bola mataku seakan mengatakan bahwa dia tidak main-main dengan perkataanya.

Tiba-tiba saja kurasakan waktu seperti berhenti. Darahku berhenti mengalir. Jantungku berdetak tak menentu. Pandanganku kabur. Aku langsung memutar kepalaku mengarah ke sekitar taman. Melihat pemandangan di sekitar taman.

Di depan kami tampak anak-anak yang sedang asyik berlari-lari, dengan terlihat sesekali ibu-ibu mengingatkan agar mereka dapat berhati-hati. Taman kota sore itu sudah mulai ramai dengan pengunjung yang hendak menatap senja dari sana. Atau mungkin hanya sekadar melepas penat dari pekerjaan yang tadi menggerogoti.

Aku mencoba mengatur emosiku. Aku menarik nafas yang panjang. Kususun kata-kata yang hendak kukeluarkan serapi mungkin.
  
“Tapi kenapa? Bukankah kita sudah mengenal selama tiga tahun dan aku kira tidak ada rasa apa-apa di antara kita. Kita berteman seperti selayaknya pertemanan yang terjadi,” kali ini kurasa aku gugup, ucapanku bergetar hingga kutak sanggup menatap matanya.

“Iya, aku tahu. Tapi entah kenapa setengah tahun belakangan ini aku merasa ada yang berbeda saat kita tengah bersama. Aku begitu senang saat berada di dekatmu, aku bahagia melihatmu, Sa. Bolehkan aku mencintaimu?” 

Steven tak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Ia terus menatapku lekat sangat dalam.
  
Aku terdiam. Aku bingung harus berkata apa. Aku kacau, sungguh. Semua kata yang kupersiapkan buyar. Aku tak menyangka Steven akan mempunyai perasaan lebih kepadaku. Kukira kami hanya berteman saja. Di tengah keheningan suasana, Steven kembali bersuara.
 
“Kamu gimana, Sa? Apa kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku?” Steven tak lagi menatap mataku. Dia mengalihkan pandangannya ke gerobak ketoprak di tepi taman yang dari tadi terus ramai didatangi pembeli.

Jleb. Pertanyaaan inilah yang aku bayangkan di keheningan tadi. Aku tak tau, aku harus mengeluarkan kata apa. Kurasa aku kehilangan semua kosakata di otakku. Lidahku begitu kelu, tak kuasa memikirkan apakah yang terjadi saat ini mimpi atau nyata.

Sungguh, aku didera rasa ketidakpercayaan yang luar biasa. Hingga akhirnya mulutku aku hanya bisa mengucapkan kata yang kurasa telah melukai hatinya.

“Hmm.. gimana ya, Stev. Sungguh kukira kita hanya berteman saja. Aku tak tahu ada perasaan khusus darimu untukku. Sungguh aku tak tau.”

Itulah kalimat terakhir yang mampu kuucapkan kepadanya. Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang terjadi. Aku diam, Steven pun diam. Tiba-tiba saja kami didera kecanggungan yang luar biasa. Padahal biasanya ada saja yang bisa kami jadikan bahan lelucon. Namun kali ini, kurasa tidak ada. Hati tak pantas untuk dijadikan bahan leluconan.

Kuputuskan saja untuk pergi meninggalkannya di taman kota. Cahaya senja nan merah mulai muncul dari peristirahatannya memulai kembali nya untuk menenangkan mengeluarkan pesona istimewanya. Aku berjalan menjauhi Steven dengan rasa yang berkecamuk, rasa yang tak mampu kutafsirkan. Tak ada kata yang terucap secara langsung untuk menolak ataupun menerimanya.


Aku biarkan semua perasaan aneh ini berjalan beriringan dengan berputarnya waktu. Hingga secara tak sadar rasa istimewa kepadanya mulai tumbuh di lubuk hatiku. Aku tak tau kenapa rasa ini bisa muncul. Namun aku berusahan untuk tidak menggubrisnya.

Sejak percakapan di taman itu kami tak lagi seakrab dulu. Dia tampaknya menghindar dariku. Sungguh aku sangat ingin mengobrol dengannya dan mengatakan bahwa rasa yang dulu dia tanyakan kini telah menuai jawaban. Tapi aku tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk mengutarakan semuanya. Sungguh kuingin mengatakan bahwa kini aku juga mencintaimu. Entah pupuk apa yang mampu membuat perasaan ini tumbuh berkembang dengan subur, hingga kurasa aku takut untuk kehilangannya.
  
***

To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)