5 Desember 2013

# curcol

Keegoisan

Malam itu peristiwa yang sudah lama saya lupakan kembali terjadi. Disaat semua telah berjalan dengan lancar dan damai sesuai alur, aral rintangan itu kembali menghadang. Seakan disambar petir yang begitu dahsyat, saya terhenyak. Seakan tak percaya, setengah sadar memandangi kejadian yang sedang berlangsung di depan mata kepala saya sendiri.

Apakah seseorang akan mengulangi kesalahan yang sama setelah dulu ia pernah merasakan bagaimana sakitnya peristiwa itu? Tak taukah mereka kalau saya disini begitu perih memandangi peristiwa itu terjadi, yang bahkan lima tahun yang lalu kerap saya temui di setiap pertemuan? Tidakkah mereka berpikir, betapa egonya diri mereka ketika memperlihatkan itu semua kepada saya yang bisa dikatakan sangat trauma dengan kejadian itu?

Sungguh, saya tak habis pikir, mengapa hal itu bisa kembali terjadi. Disaat semua sudah dipersatukan dengan landasan yang kuat. Sebuah keputusan yang mereka tahu semua yang akan mereka jalankan tidaklah mudah dan pasti ada lika-liku di dalamnya. 

Ketika waktu tak lagi muda, semua perlahan berubah. Mereka melupakan janji yang pernah tersebutkan dahulu. Dengan perasaan tak bersalah, dengan mudahnya hal itu terjadi. Sebuah perang yang selalu menjadi mimpi buruk bagi saya dahulu ketika tak sewajarnyalah saya memikirkan itu semua. Tak pernahkah mereka berpikir bagaimana perasaan saya dulu? Sangat pedih, perih, penuh luka.

Hingga saat ini, peristiwa yang sering saya jumpai dahulu tak pernah hilang dalam memori ini. Setiap gerakan, ucapan, kelakuan meraka selalu terngiang di kepala ini. Setiap saya mengingat semuanya, saat episode masalalu akan bertebangan, saat itulah air mata ini kembali berjatuhan. Dimana hati ini begitu miris memikirkan setiap tindakan yang begitu keras, tak terbendung lagi rasa ini memuncak panas. Meleleh menuju saluran mata, hingga meneteskan buliran bening ke pipi.

Setelah sekian lama saya melupakan hal pahit itu, malam itu-malam senin seakan memutar kembali memori yang pernah ada. Setiap gerakan, ucapan tak terbendung menyatu menjadi sebuah ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan setiap orang yang berada disekitarnya. Dan sayalah yang paling sakit menerima setiap puing-puing dari ledakan itu.

Saya sakit, lelah, perih, kecewa atas semuanya. Mengapa semua kembali terjadi? Disaat peristiwa beberapa tahun yang lalu tak lagi hinggap di memori ini. Saya benci situasi ini. Saya benci mereka. Keegoisan mereka membuat saya muak. Tak sadarkah mereka bahwa hati saya sangat perih menyaksikan semuanya? 

Saya seakan menyalahkan keadaan dan berusaha menghakiminya. Berharap semua hanya mimpi, namun yang ada hanyalah angan. Kini, semua telah terlanjur terjadi. Peristiwa itu kembali ada di memori ini. Sebuah keegoisan yang menerkam segalanya. Semuanya terngiang di kepala dan entah sampai kapan ia akan terus bersarang disana. Saya tidak tahu. Dan juga saya tak tahu bisa memaafkan segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)