1 Desember 2015

# cerpen

Hujan di Bulan Desember (1)

Angin malam membelai lembut wajahku. Dari kejauhan sorot lampu jalanan terlihat indah berkerlap-kerlip dengan warna yang berkilauan. Berbagai kendaraan baik itu mobil ataupun sepeda motor saling bersahutan seakan tidak ada ruang bagi mereka untuk mengalah. Semua pada egonya masing-masing, suara klakson mereka seakan berkata; aku benar, karena aku memiliki urusan paling penting.

Malam ini, bintang-bintang tampaknya enggan menunjukkan kemilaunya. Begitupun dengan bulan, sepertinya juga mengikuti apa yang dilakukan sejawatnya. Malam semakin larut, namun semakin pekat hitamnya malam, kuantitas orang disini semakin ramai. Aku dalam duniaku, masih asyik menikmati suasana malam, ditemani dengan satu gelas caramel coffe dingin dan satu macam roti croissant cokelat. Dan tak lupa barang yang tak bisa lepas dariku barang seharipun, laptop kesayangan.

Malam ini aku kembali melakukan rutinitas di malam minggu yang hampir tidak pernah terlewatkan. Tak seperti kebanyakan muda mudi lain yang menjalani ritual berduaan dengan sang kekasih di malam minggu, aku lebih senang berdiam diri di kafe kopi ini. Terletak di dalam salah satu mall yang baru selesai dibangun di Kota Bandar Lampung, menurutku kafe ini berada di posisi strategis. 

Kafe kopi ini memiliki dua jenis ruangan yang berbeda. Pertama, ruangan tertutup yang di dalamnya dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), namun tidak menghadap langsung ke jalanan. Sedangkan ruangan di sebelahnya tidak memiliki pendingin ruangan (AC), namun berhadapan langsung dengan jalanan dan juga sedikit terbuka sehingga angin malam dengan leluasanya menyapa setiap pengunjung. Tempat favoritku berada di ruangan kedua karena aku suka sentuhan angin malam.

Sudah hampir satu jam aku berada disini, hanya menatap layar monitor laptop yang berada di depanku. Saking fokusnya menatap layar, aku tidak memperhatikan seseorang mencuri pandang kepadaku sedari tadi. Mungkin sudah agak lama, atau baru saja, entahlah aku baru menyadarinya ketika meregangkan pinggangku ke kanan dan tatapan kami bertemu. Dia gelalapan, spontan memalingkan mata ke arah berbeda. 

Dari sudut pandangku, aku dapat melihatnya samar-samar. Berpenampilan cukup modis, dengan mengenakan jaket hitam ditemani dengan seorang pria yang mungkin adalah temannya. Aku berusaha kembali fokus pada laptopku, saat perlahan terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Aku sudah menebak siapa yang akan menghampiriku. Saat aku memalingkan wajah dari laptop, seseorang tersebut sudah berada di depanku. Namun dugaanku ternyata salah, bukan dia orangnya, melainkan orang yang duduk di sebelahnya.

“Halo, gue rangga. Boleh duduk disini?” ucapnya dengan tenang.

“Hmm, boleh-boleh,” jawabku  canggung.

“Jadi gini temen gue pengen kenalan sama lo tapi dia malu dan gak berani ketemu langsung sama lo,” katanya sembari melihat ke arah teman yang sedang dibicarakannya.

Aku melihat sekilas ke arahnya yang lagi-lagi langsung membuang muka dan pura-pura sibuk dengan handphonenya.

“Iya, terus?” tanyaku bingung.

“Nama lo siapa boleh minta nomer kontak lo gak, kasian temen gue jomblonya kelamaan,” ucapnya sambil tertawa.

“Hmm, gimana ya,”     
                
Aku bingung dan tak bisa berpikir jernih. Dalam keadaan bingung yang bercampur aduk, aku tak menyadari bahwa aku telah menyebutkan namaku dan nomor handphone. Dalam benakku hanya ada pikiran bagaimana agar orang di depanku ini segera pergi.

“Oke, makasih ya Juli. Maaf mengganggu,” katanya seraya meninggalkanku yang menggugu.

***

Begitulah awal mula bagaimana aku dan Okto bertemu dan kemudian berkenalan lebih lanjut. Sehari setelah kejadian malam itu, lelaki yang kemudian kuketahui bernama Okto itu menghubungiku via sms. Awalnya dia mengirimiku pesan basa-basi dan sedikit tanya jawab dengan diri pribadi. Namun selang beberapa hari, dia memberanikan diri untuk menghubungiku via telepon. 

Hubungan kami semakin lama semakin dekat. Aku senang mengobrol dengannya. Caranya berbicara, caranya mendengarkan membuatku nyaman berhubungan dengannya. Pada suatu kesempatan dia mengajakku bertemu di tempat pertama kali dia melihatku, di kafe favoritku.

“Jul, besok ada waktu gak?” Okto bertanya pada suatu percakapan di telepon.

“Ada, emang kenapa?” tanyaku.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarain langsung ke kamu. Besok kita ketemu di kafe kopi starock ya..,” ucapnya seperti menahan sesuatu untuk disampaikan.

Setelah menerima panggilan tersebut perasaanku menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang menjanggal dari ucapannya, intonasi bicara Okto kali ini berbeda dari biasanya. Diam-diam hati kecilku takut akan sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi.


*BERSAMBUNG*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)