3 Desember 2015

Mari Bantu Sesama Melalui Program Bulan Dana PMI 2015

Kamis, Desember 03, 2015 1
Masih jelas dalam ingatan saya, cerita hidup seseorang yang saya dapatkan saat menjalani masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu desa terpencil di Provinsi Lampung beberapa bulan lalu. Saat itu saya dan beberapa orang teman sedang berkunjung ke salah satu rumah masyarakat di desa itu. Kami mengunjungi rumah salah seorang wanita yang tinggal seorang diri dengan kondisi rumah yang seadanya. Ibu itu bernama Bu Sutini.

Bu Sutini sangat suka bercerita, ia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya, seperti perihal keluarga dan pekerjaan yang ia lakukan di desa itu. Tak seperti yang dibayangkan, saya terkejut mendengarkan kisah hidup dari seorang Ibu Sutini. Seorang wanita yang tinggal seorang diri tersebut rela mengabdikan dirinya di desa terpencil hanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan ilmu dan tenaganya. Saat masa mudanya, beliau pernah menjadi seorang bidan di suatu rumah sakit. Baginya membantu orang lain merupakan tanggung jawabnya selama dirinya masih sanggup dan mampu.

Ada untaian pesan dari Bu Sutini yang selalu terngiang di kepalaku sampai saat ini. 

"Jika kamu menolong orang lain, tolonglah dengan ikhlas dan sepenuh hati. Jangan mengharapkan pujian atau bahkan balasan. Bantulah siapapun yang bisa kamu bantu, dengan caramu sendiri. Tidak harus menjadi dokter untuk menyembuhkan orang lain, cukup berikan apa yang kamu punya dari dirimu. Setelah itu kamu akan bisa merasakan apa yang disebut dengan kepuasan batin"

### 
  
Membantu dan menolong orang lain yang membutuhkan merupakan pekerjaan mulia yang dilakukan seorang manusia. Seperti pesan yang disampaikan Bu Sutini, kita tidak harus menjadi seorang dokter untuk dapat menolong orang lain. Jika memiliki penghasilan lebih, kita dapat membantu dengan memberikan sedikit dari apa yang kita dapat. Jika tak lebih pun, kita tetap bisa memberikan bantuan walaupun dengan jumlah nominal yang tidak besar. Menolong orang lain tak hanya diukur dengan seberapa banyak nominal yang kita berikan, namun juga seberapa ikhlas hati kita ketika memberi.

Jadi AYO kita berlomba-lomba membantu orang lain selagi kita mampu!

Bagi yang kebingungan harus memulai dari mana untuk membantu orang lain, PMI (Palang Merah Indonesia) sedang mengadakan program "Bulan Dana PMI" periode 2015/2016. Program ini mengajak kita agar mau membantu, menolong dan peduli pada sesama dengan mendonasikan dana (seberapapun besarnya) kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kemudian dana yang terkumpul nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat melalui pelayanan kemanusiaan yang dilakukan oleh PMI. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluaan donor ataupun transfusi darah saja, bantuan dana tersebut juga berguna saat bantuan dapur umum di lapangan saat terjadi bencana ataupun saat pelayanan kesehatan / ambulans.

Selain itu PMI juga akan memberikan berbagai pelayanan lainnya, seperti:
1. Operasional penanggulangan bencana
2. Dukungan psikososial bagi korban terdampak bencana
3. Pertolongan pertama pada kecelakaan
4. Pembinaan generasi muda dan sukarelawan
5. Pendidikan generasi muda melalui PMR
6. Balai pengobatan masyarakat
7. Pelayanan pemulihan hubungan keluarga
8. Pengolahan air bersih
9. Sosialisasi atau diseminasi kepalangmerahan.
10. Dll...

Trus, gimana caranya untuk ikut serta dalam program bulan dana PMI ini?

Caranya sangat mudah kok. Bagi kamu yang ingin mendonasikan sedikit rezekimu kepada orang lain yang membutuhkan, kamu bisa transfer bantuan melalui bank-bank berikut:
 
1. Bank BCA 
Kantor Cabang Utama Thamrin 
Nomor Rekening : 206-38-1794-5 
a.n PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta. 

2. Bank MANDIRI 
Kantor Cabang Kramat Raya 
Nomor Rekening : 123-00-17091945 
a.n PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta

3. Bank DKI 
Kantor Cabang Utama Juanda 
Nomor Rekening : 101-03-17094-7 
a.n PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.

Berapun bantuan yang kamu kirimkan, sangat berarti bagi mereka di luar sana. Bayangkan betapa besarnya pahala yang kamu dapatkan dari memberi. Bukankah tangan di atas lebih mulia dibanding tangan di bawah?

Jadi tunggu apalagi? Ayo Peduli Bantu Sesama Melalui Program Bulan Dana PMI! Berikan bantuanmu pada orang lain dengan ikut menjadi bagian dari program ini. Ayo ikut menjadi bagian dari misi sosial ini! Tunjukkan bahwa kita benar-benar peduli!


We care because we are one! Indonesia!


(*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Bulan Dana PMI oleh PMI dan Citizen6)

Sumber :
http://citizen6.liputan6.com/read/2356908/yuk-ikut-lomba-blog-bulan-dana-pmi-berhadiah-total-rp-15-juta
http://jogja.tribunnews.com/2015/10/22/jelang-penutupan-bulan-dana-pmi-2015-dekati-target
http://pmidkijakarta.or.id/ 

1 Desember 2015

Hujan di Bulan Desember (1)

Selasa, Desember 01, 2015 0
Angin malam membelai lembut wajahku. Dari kejauhan sorot lampu jalanan terlihat indah berkerlap-kerlip dengan warna yang berkilauan. Berbagai kendaraan baik itu mobil ataupun sepeda motor saling bersahutan seakan tidak ada ruang bagi mereka untuk mengalah. Semua pada egonya masing-masing, suara klakson mereka seakan berkata; aku benar, karena aku memiliki urusan paling penting.

Malam ini, bintang-bintang tampaknya enggan menunjukkan kemilaunya. Begitupun dengan bulan, sepertinya juga mengikuti apa yang dilakukan sejawatnya. Malam semakin larut, namun semakin pekat hitamnya malam, kuantitas orang disini semakin ramai. Aku dalam duniaku, masih asyik menikmati suasana malam, ditemani dengan satu gelas caramel coffe dingin dan satu macam roti croissant cokelat. Dan tak lupa barang yang tak bisa lepas dariku barang seharipun, laptop kesayangan.

Malam ini aku kembali melakukan rutinitas di malam minggu yang hampir tidak pernah terlewatkan. Tak seperti kebanyakan muda mudi lain yang menjalani ritual berduaan dengan sang kekasih di malam minggu, aku lebih senang berdiam diri di kafe kopi ini. Terletak di dalam salah satu mall yang baru selesai dibangun di Kota Bandar Lampung, menurutku kafe ini berada di posisi strategis. 

Kafe kopi ini memiliki dua jenis ruangan yang berbeda. Pertama, ruangan tertutup yang di dalamnya dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), namun tidak menghadap langsung ke jalanan. Sedangkan ruangan di sebelahnya tidak memiliki pendingin ruangan (AC), namun berhadapan langsung dengan jalanan dan juga sedikit terbuka sehingga angin malam dengan leluasanya menyapa setiap pengunjung. Tempat favoritku berada di ruangan kedua karena aku suka sentuhan angin malam.

Sudah hampir satu jam aku berada disini, hanya menatap layar monitor laptop yang berada di depanku. Saking fokusnya menatap layar, aku tidak memperhatikan seseorang mencuri pandang kepadaku sedari tadi. Mungkin sudah agak lama, atau baru saja, entahlah aku baru menyadarinya ketika meregangkan pinggangku ke kanan dan tatapan kami bertemu. Dia gelalapan, spontan memalingkan mata ke arah berbeda. 

Dari sudut pandangku, aku dapat melihatnya samar-samar. Berpenampilan cukup modis, dengan mengenakan jaket hitam ditemani dengan seorang pria yang mungkin adalah temannya. Aku berusaha kembali fokus pada laptopku, saat perlahan terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Aku sudah menebak siapa yang akan menghampiriku. Saat aku memalingkan wajah dari laptop, seseorang tersebut sudah berada di depanku. Namun dugaanku ternyata salah, bukan dia orangnya, melainkan orang yang duduk di sebelahnya.

“Halo, gue rangga. Boleh duduk disini?” ucapnya dengan tenang.

“Hmm, boleh-boleh,” jawabku  canggung.

“Jadi gini temen gue pengen kenalan sama lo tapi dia malu dan gak berani ketemu langsung sama lo,” katanya sembari melihat ke arah teman yang sedang dibicarakannya.

Aku melihat sekilas ke arahnya yang lagi-lagi langsung membuang muka dan pura-pura sibuk dengan handphonenya.

“Iya, terus?” tanyaku bingung.

“Nama lo siapa boleh minta nomer kontak lo gak, kasian temen gue jomblonya kelamaan,” ucapnya sambil tertawa.

“Hmm, gimana ya,”     
                
Aku bingung dan tak bisa berpikir jernih. Dalam keadaan bingung yang bercampur aduk, aku tak menyadari bahwa aku telah menyebutkan namaku dan nomor handphone. Dalam benakku hanya ada pikiran bagaimana agar orang di depanku ini segera pergi.

“Oke, makasih ya Juli. Maaf mengganggu,” katanya seraya meninggalkanku yang menggugu.

***

Begitulah awal mula bagaimana aku dan Okto bertemu dan kemudian berkenalan lebih lanjut. Sehari setelah kejadian malam itu, lelaki yang kemudian kuketahui bernama Okto itu menghubungiku via sms. Awalnya dia mengirimiku pesan basa-basi dan sedikit tanya jawab dengan diri pribadi. Namun selang beberapa hari, dia memberanikan diri untuk menghubungiku via telepon. 

Hubungan kami semakin lama semakin dekat. Aku senang mengobrol dengannya. Caranya berbicara, caranya mendengarkan membuatku nyaman berhubungan dengannya. Pada suatu kesempatan dia mengajakku bertemu di tempat pertama kali dia melihatku, di kafe favoritku.

“Jul, besok ada waktu gak?” Okto bertanya pada suatu percakapan di telepon.

“Ada, emang kenapa?” tanyaku.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarain langsung ke kamu. Besok kita ketemu di kafe kopi starock ya..,” ucapnya seperti menahan sesuatu untuk disampaikan.

Setelah menerima panggilan tersebut perasaanku menjadi tidak enak. Ada sesuatu yang menjanggal dari ucapannya, intonasi bicara Okto kali ini berbeda dari biasanya. Diam-diam hati kecilku takut akan sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi.


*BERSAMBUNG*

29 November 2015

Tujuan Jangka Panjang

Minggu, November 29, 2015 0
Sudah lama tak berbacot ria disini, ah betapa rindunya saya!

Kadang banyak hal yang ingin saya tuliskan di blog kesayangan ini, tapi apalah daya harapan hanya tinggal harapan, yang tak kunjung jadi kenyataan. Banyak faktor yang menyebabkan (mengapa) akhir-akhir ini saya jadi enggan alias gak mood untuk menulis salah satunya puyeng yang tidak ada ujungnya. Padahal dulu (tahun-tahun lalu) blog ini tak pernah sepi, setiap kejadian selalu saya ceritakan, tapi tahun ini rasanya agak sedikit berbeda (mungkin karena faktor usia). #halesan

Ah, saya harus cerita dari mana ya... mungkin kegundahan ini kerap terjadi pada mahasiswa tingkat akhir. Menjelang akhir tahun ini, banyak pikiran yang berkecamuk di otak saya. Kuliah sudah mendekati tahun keempat, skripsi belum kunjung mulai, jikapun sudah selesai setelah itu apa yang akan saya lakukan? Maksudnya saya masih bingung dengan target jangka panjang yang akan saya lakukan.

Hmm, mungkin banyak orang bilang kerjakan saja apa yang ada di hadapanmu saat ini, untuk urusan nanti atau setahun lagi belakangan saja dipikirkan. Kalau saya ikuti, jujur, saya jadi tidak memiliki tujuan hidup, harus seperti apa saya jalani hidup ini. Saya memang harus memulai langkah jangka panjang harus ditempuh, misal setelah ini apa dan kemudian apa begitu seterusnya.

Ya, mungkin saya memang harus menuliskannya, sehingga tujuan hidup saya akan lebih jelas.

Pertama, skripsi harus dimulai! Apapun rintangannya, saya harus memulai. Suatu hal tidak akan pernah selesai jika kamu tak kunjung memulainya. OKE, INGET ITU! 

Kedua, setelah semuanya selesai (WISH: WISUDA JULI 2016/ MASIH BERUMUR 20TH) persiapkan untuk mencari kerja. Ya, yang ini masih terlalu jauh tapi tetep harus dipikirkan. OKE, KERJA DI LAMPUNG DULU (MELAMAR DI NESTLE)

Ketiga, jika sudah bekerja beberapa bulan, cari informasi tentang beasiswa S2 ke london. Yang ini mungkin emang harus saya jadikan tujuan, karena saya ingin sekali mewujudkannya tak sekadar impian yang selalu tuliskan. Untuk kali ini, HARUS SAYA WUJUDKAN!

Kemudian, untuk selanjutnya barulah memikirkan hal-hal seperti hmm mencari pendamping....

.
.
.
.
.
.
.
.

Hening.

Kalau urusan yang terakhir itu sebenarnya sudah beda chapter lagi. Yang terpenting sekarang gimana caranya mewujudkan semua list yang telah saya buat tersebut. Sehingga hidup saya menjadi jelas dan langkah kaki ini memiliki arah yang jelas pula.

Ganbatte!
Semangat Ngoding!
Semangat Mau Wisuda!

5 November 2015

Menemukan Judul

Kamis, November 05, 2015 1
Akhir-akhir ini entah kenapa kepala gue serasa gak ada isi atau memang beneran gak berisi. Saking kosongnya, gue sampe kebingungan 7 keliling untuk memikirkan sebuah judul sakral, judul yang akan mengantarkan gue menuju gerbang akhir dari pendidikan S1. Yakni judul keramat, judul SKRIPSI. 

Kalau dipikir-pikir waktu berjalan sangat cepat, saking cepatnya gue sudah merasa sangat tua berada di kampus. Mempunyai tiga adik angkatan di bawah, kampus sudah sesak dengan keberadaan mereka, dan kelas sudah jarang ada yang kosong. Bukankah itu menandakan bahwa angkatan gue harus segera hengkang dari peradaban?

Saat ini gue sudah berada di masa dimana mahasiswa lebih sering mencari dan menunggu dosen dibanding mencari orang tua sendiri. Masa dimana masuk kelas sudah jarang, ke kampus hanya mencari inspirasi judul itupun kebanyakan nongkrong gak jelas. Alhasil gue jadi males ke kampus kalo gak ada tujuan atau gak ada yang ngajakin. Aisssh, mahasiswa macam apa ini.

Setelah gue berusaha telaah, kenapa gue kesulitan banget ngedapetin judul itu adalah karena gak ada satupun mata kuliah di Ilmu Komputer yang benar-benar gue dalami. Jadi alhasilnya ya gini, gue kebingungan mencari judul yang gue rasa gue mampu menyelesaikannya hingga akhir. Sebenarnya banyak judul bergentayangan, tapi dasarnya guenya yang gak ngerti dan takut gak bisa nyeleseinnya. Jadi sampe sekarang judul itu tak kunjung menghampiri gue yang sudah gundah gulana ini. Hikss.

Sedih rasanya memikirkan target yang tak kunjung tercapai. Tapi sampe sekarang gue masih berusaha kok menemukan judul yang cocok dengan hati, otak, dan kemampuan gue. Ya walaupun gue gak tau sampe berapa lama lagi gue harus menunggu, gue optimis target besar untuk lulus tahun 2016 akan benar-benar terjadi. Saat gelar S.Kom disematkan di belakang nama, saat tali toga di pindahkan, saat itulah yang benar-benar gue tunggu.

Ya tuhan, berikanlah kepadaku ide yang cemerlang, otak yang brilian untuk menyelesaikan pendidikan ini. Berikanlah aku dan orang tuaku kesehatan sehingga aku bisa mempersembahkan yang terbaik untuk mereka.

FIGHTING!!! Semangat MAHASISWA TINGKAT AKHIR!!!