8 Maret 2013

# curcol

Salah Jalankah?

Malam ini saya ingin mencurahkan sedikit rasa yang saya rasakan. Kegalauan yang saya rasakan minggu-minggu ini. Tentang sebuah komitmen untuk sebuah masa depan. Jujur, kini saya tak tau akan kemana kaki ini melangkah. Saya malu untuk mengakui bahwa saya belum mempunyai tujuan hidup. Oh god, betapa meruginya hidup saya ini! Ketika  seseorang telah melangkah jauh dalam hal yang tidak dikuasainya, saya yakin hidupnya akan mengalami kesusahan. Saya takut hal itu terjadi pada saya. Ingin rasanya saya kembali ke waktu 6 bulan yang lalu. Saat menentukan sebuah pilihan yang membawa perubahan  besar dalam hidup saya. Entahlah, saya bingung. Apakah saya menyesali pilihan ini? saya ragu, takut untuk melanjutkan ini, walaupun sebenarnya keinginan saya untuk sukses sangatlah kuat.

Berawal dari ketidakpastian saya dalam memilih sebuah pilihan. Sebenarnya saya terlalu takut untuk tidak lulus universitas negeri. Karena dari awal SMA, orang tua sudah mewanti-wanti dengan pernyataan mautnya. “Kalau tamat SMA kamu tidak dapat kuliah di negeri, kami tidak akan mau menguliahkanmu. Percuma bakal ngabisin duit saja”. Kira-kira seperti itulah kalimatnya. Pernyataan yang benar-benar membuat saya berfikir siang dan malam. Saya sama seperti kebanyakan murid lainnya, mengidam-idamkan kuliah di universitas favorit. Dari awal SMA saya sudah berniat akan ngambil kuliah di UI, UGM ataupun ITB. Tapi ketika mendekati hari penentuan. Tiba-tiba saya digeluti rasa takut yang mendalam. Saya sadar saya tak mempunyai kecerdasan yang lebih. Saya tahu akan kemampuan yang saya miliki.

Oh god, saya bingung dengan apa yang akan saya pilih. Saya tak punya ketertarikan dibidang kesehatan. Walaupun keluarga saya di padang menyarankan agar saya memilih kedokteran saja. Saya jelas-jelas menolaknya. Bagaimana tidak? Saya mempunyai beberapa alasan kok. Yang pertama, saya kurang menyukai menghafal nama-nama latin walaupun daya ingat saya cukup memadai. Yang kedua, saya tidak suka dengan anak-anak. Nah lo? Apa hubungannya? Anda pikirkan sendiri. Dan yang ketiga, saya tidak suka terlalu banyak bicara. Jadi saya yakin kurang bisa melayani pasien dengan baik. Saya kurang komunikatif. Yap. Kira-kira begitulah alasan saya menolak untuk memilih jurusan favorit.  

Banyak orang mengatakan bahwa jadi dokter itu menjanjikan. What? Iyakah? Saya juga tak tahu. Yang saya ketahui jadi dokter itu sangat melelahkan. Ketika saya di lubuk basung dulu (sebuah ibukota kabupaten di prov. sumbar), saya tinggal bersama keluarga kakak mami saya yang profesinya sebagai dokter. Mereka membuka praktek dirumahnya. Saya mengetahui betul bahwa setiap hari dokter itu harus selalu siap kapanpun untuk membantu pasien. Baik pagi, siang, malam ataupun dini hari sekalipun. Bahkan terkadang mereka tak punya waktu untuk beristirahat ataupun sekedar bercengkrama dengan anak-anaknya. Tapi dibalik itu semua saya tak bisa menyangkal bahwa pengahasilan mereka sangatlah melebihi profesi lain. Dengan berbagai pertimbangan saya meyakinkan bahwa saya tak akan menjadi dokter.
Saya kembali berfikir sebenarnya cita-cita saya ini apa. Saya memimpikan bahwa kelak saya akan bekerja dikantor yang ber-AC dengan laptop didepan dan kerjanya hanya duduk saja namun menghasilkan uang yang banyak. What? Kerjaan apa itu? Emang ada ya? Saya juga tak tau. Mungkin karena terlampau sering menonton televisi saya menjadi tertular dengan profesi seorang manager ini. Tapi kan jadi manger itu gak gampang. Harus dimulai dari bawah dulu. Yang penting kelak saya akan menjadi seperti itu.

Nah, kala itu saya bingung untuk memilih jurusan yang sesuai cita-cita saya. Yang saya tau kerjanya pasti berhubungan dengan komputer. Dengan pikiran singkat dan tak banyak berfikir saya memutuskan pilihan saya sendiri. Pilihan yang tak ada campuran tangan orang tua. Murni pilihan sendiri. Saya pilih jurusan dengan passinggrade terendah di UGM, dan tertinggi di UNILA.  
Saya sangat berharap semoga lulus di pilihan pertama. Namun itu hanyalah keinginan saya.

Kehendak Tuhan berkata lain. Saya dijebloskan di pilihan kedua. Pilihan yang hanya saya jadikan serap agar saya tetap bisa kuliah walaupun bukan di universitas favorit. Saya berfikir bahwa dengan memilih ini, saya yakin bahwa setidaknya saya akan masuk negeri. Saya tidak benar-benar menginginkan kuliah disana. Saya hanya terlalu takut dengan ancaman orang tua. Kesalahan terbesar yang saya lakukan : Saya memilih sebuah keputusan dengan setengah hati.
Tapi kini entahlah, setelah satu semester saya jalani sebagai mahasiswa di jurusan ini saya ragu. Saya bimbang apakah cita-cita saya akan terwujud. Dengan logika yang bisa dibilang dibawah standar saya berani-beraninya mengambil jurusan ini. Kesalahan terbesar saya yaitu tak mengetahui bahwa jika mengambil jurusan ilmu komputer ini harus mempunyai logika yang tinggi. Dan saya baru mengetahui ketika sudah tercelup disini. Betapa bodohnya saya.

Saya menyadari bahwa dibidang logika saya benar-benar anjlok. Saya susah untuk mengimajinasikan sesuatu. Saya tau kekurangan saya. Yang saya sesalkan saya masuk ke jurusan yang mempelajari kelemahan saya itu. Saya tak tahu apakah ini akan bisa memperbaiki kelemahan saya atau malah sebaliknya. Yang jelas saya telah berhasil kuliah di negeri. Itu sudah cukup membuat bangga orang tua saya. Kini saya hanya pasrah menunggu masa depan yang tidak saya ketahui bentuknya seperti apa.

2 komentar:

  1. masa depan itu kita yang tau harus seperti apa yang terjadinya nanti,
    jangan manja dengan kelemahan tapi jadilah seseorang yang kuat karena tau kelemahan itu dimana !
    berfikir kedepan. jangan hanya bertindak karena meraka yang selalu kamu anggap wah..
    hargai dirimu sendiri~

    BalasHapus
  2. siapapun anda makasih atas kata-kata nya :')
    insya allah saya akan mencoba apa yang kamu sarankan...

    BalasHapus

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)