16 Februari 2013

# cerpen

Rasa Untukmu #Part1

Setelah sekian lama tak menulis diary kini ku akan menulis kelanjutan hidupku yang terus bejalan. Hari ini tepat  7 bulan setelah kejadian yang tak akan pernah kulupakan. Kejadian yang mungkin menurut kalian sepele tapi menurutku itu terlalu istimewa. Ah, aku rindu masa-masa itu. Masa-masa dimana semua bisa tertawa lepas tanpa memikirkan imej yang diciptakan. Masa-masa dimana suka duka kami lewati bersama. Kebanyakan orang mengatakan bahwa itulah masa-masa terindah. Mungkin kalian sudah menduga masa-masa apa yang ingin kuceritakan.

Yap, benar masa-masa SMA yang penuh kebahagiaan bersama teman-teman terbaikku dan bersama seseorang yang telah kusakiti hatinya meskipun aku mencintainya. Hari ini aku telah genap tiga bulan menjadi seseorang mahasiswa yang kusangka dulu ini adalah masa-masa bebas dan pasti akan menyenangkan. Ternyata pikiranku salah. Disini aku tak lagi bertemu dengan teman-teman seperti di SMA dulu. Teman-teman yang ada ketika kita ada masalah mau mendengarkan dengan sabar masalah yang akan kita ceritakan, bahkan rela menghabiskan waktunya untuk mendengar celoteh gak penting  kita.

Disini aku hanya bisa berandai-andai, andai aku bisa kembali ke masa-masa itu pastinya aku tak akan semurung sekarang. Namun, apalah daya waktu akan terus berjalan dan tak mungkin kita akan terlarut pada masa yang telah lalu.
O iya, kalian pasti terheran-heran dengan kalimat pembuka ku. Ada apa dengan 7 bulan yang lalu?  Hari ini tepat tanggal 6 november 2012 dan kejadian yang tak akan kulupakan itu terjadi pada panggal 6 april 2012. Berarti tepat 7 bulan sudah kejadian yang sangat menyenangkan sekaligus menyakitkan itu terjadi. Baiklah, kalian mungkin sudah tidak sabar lagi mendengar ceritaku. Fine, akan kuceritakan.
Bermula dari awal semester 2  seseorang yang sudah lama menjadi classmate aku mulai sering berbicara padaku. Padahal sebelumnya kami jarang bercerita ataupun sekedar berbincang walaupun kami satu kelas. Perlahan kubuka kembali lembaran awal diaryku yang membuatku senyum-senyum sendiri.

12 januari 2012
Semua ini berawal dari perkataanku yang sangat ngelantur kepada timmy. Aku tak tahu kenapa kata-kata itu terucap dari mulutku. Aku yakin dari raut wajahnya dia sangat memikirkan dugaanku dan tampaknya suatu saat nanti dia akan membuktikan bahwa analisis ku yang konyol itu salah total.
Siang itu iseng-iseng aku mengikuti langkah timmy dari belakang sepulang sekolah.
“Hey tim tunggu dulu ada yang ingin aku omongin nih.”ucapku dengan tampang sok serius.
“Apaan sih din, serius amat kayaknya.”ujar timmy.
“ehehe gak juga sih cuma mau nyampaian pendapat doank kok.”jawabku cengengesan.
“Pendapat tentang apa dan siapa emangnya?
“Tentang kamu sih, tapi gak boleh marah lo.”ujarku sambil memiringkan bibir
“iya iya aku gak bakalan marah kok. Ayo bilang aja.
“Ini loh kita kan udah temenan dari kelas 1 SMA nih, dari raut wajah kamu,kamu itu...........”aku berhenti bicara.
“Apaan sih din, ayo lanjutin bikin penasaran aja.”ucap timmy tak sabaran.
“Tapi ini Cuma pendapat aku aja lo, jangan marah ya.
“iyaaaa dina,lama-lama aku bakalan marah beneran loh ayo buruan ngomong.
“oke oke deh kalau kamu maksa. Jadi gini berdasarkan penglihatanku  wajah kamu itu mencerminkan seorang playboy di masa depan loh.
“Lo kok gitu? Selama di SMA kan aku belum pernah pacaran,dari mana kamu tau?
“Ya berdasarkan feeling aja sih. Tapi gak usah dipikirin juga sih cuma dugaan doank kok”ujarku santai.
Setelah ngomong itu aku langsung ngeluyur pergi dengan meninggalkan ekspresi  wajah timmy yang gag mau terima yang seakan dia akan membuktikan kalau pendapatku itu salah besar.  Aku rasa itulah kejadian yang mendekatkan kami dihari-hari selanjutnya.
Sejak kejadian itu entah mengapa kelakuan timmy perlahan berubah terhadapku. Dia menjadi sedikit perhatian terhadapku. Aku menanggapi hal itu dengan sikap biasa saja. Aku termasuk orang yang cuek apalagi sama cowok. Selain itu aku juga seorang gadis yang senengnya becandaan sama teman-teman dan tak jarang banyak teman-teman yang mengatakan bahwa aku cewek humoris.  Jadi bagiku mendapat perhatian seperti itu dari timmy aku anggap hanya lelucon saja.

20 januari 2012
Siang itu adalah jadwal ibu neti guru fisika yang masuk ke kelas kami. Namun, setelah lama ditunggu kami dapat kabar bahwa bu neti ada acara keluarga. Berarti dapat dipastikan siang ini jam kosong sudah menanti. Murid-murid langsung ngacir kemana-mana, tapi masih ada yang tetap dikelas. Salah satunya aku. Aku memilih untuk tetap di kelas membaca buku. Ketika sedang asyik membaca buku tiba-tiba ada yang memanggil.
“Din, ini untuk kamu” beri seseorang itu malu-malu.
“ini apa? Untuk aku?
“iya untuk kamu, untuk siapa lagi” ujar timmy sambil menyerahkan sesuatu kepadaku.
Setelah memberi sesuatu itu, timmy langsung pergi. Aku terheran-heran aja dengan sikapnya. Dalam hati aku bertanya apa alasan dia memberi ini, gratis lagi. Jujur aku belum pernah diberi sesuatu oleh orang lain apalagi oleh cowok. Siang itu aku benar-benar galau memikirkan sebenarnya apa yang terjadi. Dalam hati ku yang jauh aku bergumam “apakah  dia suka padaku?”. Namun dengan cepat kutepis pikiran itu. Tak mungkin lah dia suka padaku. Aku bukanlah perempuan cantik yang di idamkan setiap laki-laki. Tidak juga terlalu pintar. Namun aku perempuan yang hobbynya hanya tertawa dan itu tidak ada istimewanya. Ah, mungkin Cuma basa-basi aja karena aku kemarin metraktirnya bakso. Sudahlah ga usah terlalu dipirkan.
Hari-hari kulalui dengan sikap timmy yang semakin aneh. Aku berfikir sebenernya mengapa dia bersikap seperti ini kepadaku. Sampai pada suatu hari diluar dugaanku. Pagi itu timmy menyusulku ke perpustakaan. Aku yang tengah asyik belajar agak terkejuk dengan kedatangannya tiba-tiba dan langsung duduk di sebelahku.
“eh timmy, ada apa ya? Ngapain kesini?”
“eh ini ada sesuatu untuk kamu”, ucapnya gugup.
“emang apaan?”,tanyaku
“ini ada sedikit oleh-oleh dari ku”, ujar timmy sambil menyodorkan 2 buah gelang tangan pink.
Lalu adegan yang membuat jantungku berdegup terjadi. Timmy memegang tanganku dan memasang gelang itu ketanganku.
“ya ampun, ini kenapa? Gak ada hujan gak angin ini kenapa timmy memberi hadiah dan dia memegang tanganku. Jantungku berdegup kencang dan pikiranku kacau. Ah, mungkin ini Cuma sekadar hadiah dari teman kok gak lebih”, pikirku dalam hati.
Setelah memberiku gelang, Timmy langsung pergi meninggalkan aku yang terpaku dengan rasa yang berkecamuk di hati.

*To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)