16 Maret 2013

# cerpen

Rasa Untukmu #Part2

Di tengah rasa penasaranku tak sengaja aku bertemu dengan farhan, teman dekatnya timmy. Aku menceritakan perihal kejadian yang terjadi di perpustakaan tadi.
“Hey farhan, sini dulu deh. Aku mau nanya sesuatu nih, ” panggilku seraya mendekati farhan..
“Ada apa din?”tanya farhan.
“Itu, mengenai timmy. Kamu tau gak tentang gelang ini? ”tanya ku sambil memperlihatkan gelang pink yang diberikan timmy.
Farhan hanya mengamati gelang itu dan lama terdiam.
“Oh ini, emangnya kenapa?”
“Kamu tau gak apa maksud timmy ngasih aku gelang ini? padahal aku gak minta apa-apa loh waktu dia pergi lomba kemarin.
“Hemm, gimana yaa. Yang penting timmy punya maksud tersendiri kok. Suatu saat kamu akan tahu semuanya. Tapi aku gak bisa kasih tau itu sekarang. Biarlah kamu mengetahuinya langsung dari timmy bukan dari aku.”ujarnya sambil nyelonong pergi.
***



10 maret 2012
Setelah kejadian itu, aku selalu memikirkan sosok timmy.  Apalagi setelah mendengar tuturan farhan. Hatiku terus bergejolak. Sebenarnya apa yang terjadi. Apakah dia menyukaiku? Ah rasanya tak mungkin. Kami sudah hampir 3 tahun sekelas dan dia bersikap biasa saja kepadaku. Kami sering bercanda ataupun tertawa bersama layaknya seorang saudara.
Tapi setelah apa yang telah ia perbuat kemarin membuat ku kembali berfikir. Tak seperti biasanya timmy bersikap demikian. Timmy sang ketua kelas yang terkenal dengan sikap wibawa dan bijaksana nya rasanya aneh jika tak mempunyai maksud memberikanku 2 buah gelang itu. Apa dia mempunyai rasa kepadaku? Mengenai diriki, Akupun tak tau apa yang kini kurasa. Apakah aku menyukainya? Kedekatan dari 2 tahun lalu tak pernah kuartikan sebagai kedekatan yang lebih dari seorang teman. Tapi sungguh hal ini membuat pikiranku kacau dan aku berniat mencurahkan isi hatiku pada sahabatku, Alya.
Sore itu sepulang nya sekolah aku langsung menghubungi alya, teman dekatku. Aku sudah dekat dengan Alya dari kelas 1 SMA. alya pun pernah menjadi teman sekelas aku dan timmy. Jadi aku rasa dia bakalan shock mendengarkan apa yang kualami.
“ Kenapa din ? Lo mau curhat ape?”tanya alya ketika sampai di rumahku.
“ Sesuatu al, gimana yaa gue nyampein nya”
“Ciye, eheem apaan tuh. Sepertinya ada yang terjadi dengan sahabatku ini” celetuk alya sambil tertawa.
“ kalau gue cerita, lo janji ya enggak bakal ngetawain gue yaa.” ucapku penuh harap.
“iye. Gue janji deh. Tapi gak sepenuhnya yaa.”jawabnya dengan tersenyum misterius..
Akhirnya aku menceritakan bagaimana sikap timmy akhir-akhir ini. Mulai dari sikapnya yang berubah, pandangannya juga berubah sampai hadiah-hadiah yang diberikannya kepadaku.
Sesuai dengan dugaanku. Sahabatku itu langsung tertawa.
“kan..kan lo ngetawain gue.”ujarku cemberut.
“sorry sorry . sumpah, gue gak percaya seorang timmy kayak gitu sama lo. apa yang bisa dilihat dari lo coba. “ hikmah kembali menertawakanku.
Aku semakin cemberut. Menyadari ekspresiku, alya mulai serius.
“oke, oke gue akan serius. Sebagai sahabat lo gue tau apa yang ada di fikiran lo. Lo pasti sedang galau dengan sikap timmy yang sekarang ini. Menurut gue sih timmy suka sama lo. Berdasarkan cerita lo, gue yakin dia mulai jatuh cinta sama lo awal semester 2 ini. Mungkin semenjak lo ngatain wajahnya kayak seorang playboy.”
Aku mencerna apa yang dikatakan alya.
“terus sekarang apa yang musti gue lakuin?”
“yaa lo nunggu aja. Gue yakin dia bakal nembak lo. Kalau dia gentlemen sih. Tapi tunggu dulu. Gue belum tau perasaan lo ke dia. Apa lo suka sama timmy?”tanya alya sambil menaikkan alisnya.
“ itu yang jadi masalahnya. Sampai sekarang gue gak tau apa yang gue rasain. Mungkin karena sudah terbiasa menganggap dia teman, gue jadi bingung dengan rasa ini.”
“mungkin lo butuh waktu din, gue yakin seiring berjalannya waktu lo bakal tau bagaimana perasaan lo ke dia”
“hmmmm, semoga aja”
“tapi asli deh, gue ga percaya aja. Seorang dina akhirnya akan merasakan bagaimana rasa berpacaran. Ahahahaha.”hikmah kembali tergelak.
“ah, udah ah. Lo ngeledekin gue mulu dari tadi. Sana ah, pulang.”jawabku kesal
***
30 maret 2012
Seiring berjalannya waktu aku semakin merasakan perubahan sikap timmy kepadaku. Dia yang dulu cuek kepadaku menjadi lebih perhatian. Dia juga sering memandangi ku diam-diam tanpa sepengetahuaku tapi aku tahu itu. Aku tetap pada posisiku. Menikmati perhatiannya kepadaku tanpa bertanya apa alasannya berbuat seperti itu. Jujur, hati kecil ku sangat bahagia menerima perhatian seperti itu. Sebab aku jarang diperlakukan seistimewa itu. Kami menjalani hubungan seperti biasa, seperti belajar bersama, bercanda bahkan sifat isengnya menjahiliku membuatku hanya bergumam kesal. Namun, sampai saat ini dia belum mengatakan apa-apa kepadaku. Perihal apa tujuan sebenarnya terhadapku. Aku tak berani menanyakannya. Karena aku bukan tipe cewek agresif dan aku juga tak mau terlalu berharap lebih. Mana tau fikiranku selama ini salah.
Siang itu aku tengah mengerjakan soal matematika karena sebentar lagi ujian nasional akan datang. Ketika aku sedang asyik menghitung angka-angka, tiba-tiba timmy sudah duduk didepanku. Sambil tersenyum genit dia menyapaku.
“ hei dina, rajin amat sih. Gabung donkk” ujar timmy sambil menggeser kursinya kesampingku
“eh tim, ayo sini. Bahas soal bareng.” Jawabku santai.
“yang ini caranya gimana sih din?”tanya timmy sambil menunjuk soal nomor 10.
“oh, ini caranya pakai rumus limit yang biasa....
Sebenarnya aku menyadari, ketika aku menjelaskan mata timmy tak lepas memandang wajahku. Namun aku pura-pura tak mengetahuinya. Aku terus menjelaskan soal itu. Setelah selesai membahas beberapa soal kami mengobrol ringan untuk menghilangkan kejenuhan. Dan tiba-tiba saja aku menanyakan pertanyaan yang takkan ku lupakan sampai sekarang.
Ketika suasana hening tak ada lagi percakapan tiba-tiba aku menanyakan pertanyaan yang “enggak gue banget”.
“eh, tim sebelumnya kamu udah pernah pacaran gak?”
Jujur dalam hati aku merasa menyesal kenapa pertanyaan itu muncul dari mulutku
 “mmm, kok kamu nanya itu?’ujar timmy sambil mengangkat alisnya.
“eh, mau tau aja. Kalo ga dijawab gak papa kok.”jawabku langsung merasa bersalah.
“hehe, gak papa kok. Aku gak keberatan. Dulu aku pernah pacaran 1 kali sewaktu masih smp. Cuma semenjak itu aku gak pernah pacaran lagi. Karena aku tipt orang yang susah jatuh cinta. Cuma orang-orang tertentu yang bisa membuat hatiku luluh, ”ucapnya seakan mengisyaratkan sessuatu.

***

6 april 2012
Pagi itu mentari terbit seperti biasa penuh kehangatan. Embun pun mulai menghilang karena sang mentari yang sudah menampakkan dirinya. Seperti biasa aku pagi-pagi sudah bangun dan mengerjakan aktifitas pagi. Sholat, mandi dan sarapan. Jam 7 aku sudah berada di sekolah. Belum ada siapa-siapa disana. Aku hanya menunggu di depan pintu sambil membaca buku biologi yang kebetulan nanti ada try out. Jam 7.15 pintu sudah dibuka dan teman-temanku sudah banyak yang datang. Ketika akan masuk kelas, tiba-tiba ada orang yang memanggilku.
“ din, sini dulu ada yang ingin aku sampaikan.”ternyata farhan yang memanggilku.
“apaan han, tumben pagi-pagi udah manggil aku” tanyaku keheranan.
“enggak, aku Cuma mau nyampein hari ini bakalan jadi hari tak terlupakan untukmu. Pokoknya kamu bakalan ada surprise deh untukmu.
“surprise apaan ?”
“ada deh.”ucap farhan yang langsung ngeluyur pergi.
Selama try out berlangsung aku tak konsentrasi  mengikuti apa yang dijelaskan guru. Di pikiran saya masih terfikirkan apa yang sebenarnya maksud ucapan farhan tadi. “Emangya ada surprise apa? Aku gag ulang tahun kok. Dia juga gak ulang tahun. Ahhh, farhan ini benar-benar membuat aku penasaran. Kira-kira apa ya maksud ucapan farhan tadi?” ucapku dalam hati.
Jam 13.00
Waktu pelajaran pun habis. Tapi tak ada tanda-tanda  kejutan disana. Aku pun menghilangkan rasa penasaranku pada kata-kata farhan tadi pagi.
“Ah, farhan pasti ingin mempermainkan ku saja” pikirku dalam hati
Aku pun membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Dengan langkah santai aku melangkah meninggalkan kelas. Ketika sampai didepan kantin, aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku. Dan ternyata suara itu berasaal dari timmy.
“Hey, din. Sini dulu aku mau ngomong”
“iya tim, mau ngomong apa?”
“mungkin kamu akan shock mendengar apa yang akan aku ucapkan. Tapi inilah aku”ucapnya yang semakin membuatku penasaraan.
“ngomong apa sih. Langsung aja”
“aku tahu kamu bertanya pada farhan tentang alasan ku memberimu berbagai macam hadiah. Hari ini aku akan menjawab apa yang kamu tanyakan itu”
Aku hanya diam. Jantungku seakan berhenti berdetak memikirkan apa yang akan dikatakannya.
“dari awal aku memberimu hadiah itu, aku sudah mempunyai perasaan kepadamu.aku tau kamu pasti shock mendengar penuturan ku ini. tapi memang inilah perasaanku. Aku menyukaimu dina.”ucapnya sambil menatap mataku.
“What??? Benarkah. Oh my god, apakah ini benar-benar terjadi. Sungguh aku tak percaya. Dia suka padaku. Jadi ini kejutan yang dibilang farhan tadi pagi.
Aku tak bisa berkata sepatahpun. Waktu serasa berhenti berjalan. Jantungku berdegup tak karuan. Aku tak tahu harus menjawab apa. Menanggapi reaksi diamku timmy berbicara lagi.
“Mungkin kamu masih belum bisa menerima pengakuan ini, tapi memang inilah yang aku rasakan din. Inilah alasanku selama ini sering berada didekatmu.”
“Tapi, kenapa tim? Kenapa kamu menyukaiku? Tidak ada sisi plus didalam diriku”ucapku akhirnya setelah mengeluarkan tenaga untuk berbicara.
“Mungkin itulah yang dimaksudkan cinta itu buta. Aku tak tau alasan aku menyukaimu. Yang aku tau aku merasa nyaman berada di dekatmu. Itu saja. Jadi bagaimana perasaan mu terhadapku?”
“mmm...”aku berfikir lama. Aku bingung harus menjawab apa. Dan tiba-tiba saja aku mengucapkan kalimat yang tak sesuai dengan hatiku.
“aku mempunyai rasa yang biasa saja kepadamu tim. Sama halnya dengan perasaanku kepada teman-teman yang lain.
“benarkah? apakah kau tak merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan?

Aku hanya terdiam. tak menanggapi pertanyaan timmy.

“ yasudah. gag papa kok. aku tak memaksamu harus menjawabnya.

Aku melihat ekspresi timmy pada saat itu. Tersirat pada wajahnya yang mengungkapkan kekecewaan. Dalam hati aku menyesali berkata demikian. Aku tahu sejak saat itu akupun menyukainya. Tapi aku tak mau mengakuinya. Karena dalam pikiranku untuk apa aku harus jujur, toh sebentar lagi kami juga akan berpisah. Aku akan tinggal bersama orang tuaku di lampung dan dia akan tetap di padang.
***

Setelah hari pengungkapan itu, kami tak lagi sering berbicara. Dalam hati aku berharap dia akan menanyakan perasaanku sekali lagi. Tapi dia tak kunjung bertanya. Dia seakan menjaga jarak terhadapku. Aku harus mampu menerimanya. Aku yang menyebabkan dia seperti ini. Aku merasakan sakit yang mendalam dihati ini karena tak bisa jujur dengan persaanku sendiri. Tapi, inilah pilihanku. Aku yakin inilah yang terbaik untukku dan timmy.
Hingga hari perpisahan pun tiba. Setelah melewati ujian nasional beberapa hari kami pun berada pada penghujung pertemuan. Aku tau dia sangat sedih. Aku pun begitu. Aku tak kuasa menahan rasaku ketika bertatapan dengannya untuk terakhir kali. Aku hanya tersenyum seakan mengisyaratkan semua akan indah pada waktunya. Dia pun hanya bisa mengucapkan, “Hati-hati ya. Semoga yang terbaik selalu bersama kita.”ucapnya terakhir kalinya.
***
Diary ini membuat ku kembali mengingat ke masa itu. Dan hari ini, tepat 7 bulan semenjak kejadian itu. Kami tak lagi pernah saling menyapa. Sms-an tak pernah apalagi telfonan. Dia mungkin sibuk dengan aktifitasnya begitu pula aku. Tapi,aku tak akan pernah melupakan semuanya. Bagi saya terlalu indah untuk melupakan sesuatu yang indah. Kenangan ini akan aku simpan sampai kapanpun. Walaupun cinta ini tak sampai, aku rela dan ikhlas. Dalam hati aku berkata biarlah rasa ini ku pendam hingga tiba saatnya dia tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan entah sampai kapan. Aku pun tak tau. Biar waktu yang akan menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kalau ada yang mau disampaikan tinggalkan comment ya ^^ Thank you :)