16 Desember 2013

Di Penghujung Tahun

Senin, Desember 16, 2013 0
Mungkin kau sudah lupa... saat dulu kita masih bersama...
Mungkin kau (tak) sengaja lupa... saat semua kita lakukan bersama-sama...
Atau mungkin kau mendadak amnesia, ketika sesuatu yang baru hadir di hidupmu...

Disaat waktu terus menyusuri detik, menit dan jam...
Tak lekang oleh semua hiruk pikuk hidup...
Aku tetap masih disini... seperti yang dulu...
Hingga waktu yang tak kau sadari...
Aku merintih menyaksikan semua...

Rerintik hujan kian hanyut dibawah langit kelam...
Semua skenario hidup seakan tak berpihak dalam perjalanan ini...
Saat kusadari rintik ini menjadi sangat pedih...
Beriringan dengan kau yang tak kunjung ada untukku...

Kini, kenangan lalu memblur seketika...
Tak ada lagi ingatan tentang kebersamaan antar insan...
Semua seakan tertelah oleh setiap rintikan hujan...
Yang kerap membasahi bumi...
Di penghujung tahun ini...

(Hujan di Penghujung Tahun - 16 Desember 2013)


11 Desember 2013

Takdir.

Rabu, Desember 11, 2013 0
Malam ini tampaknya hujan setia menunggu gue diluar. Terbukti dengan intensitasnya yang tidak begitu tinggi membuat suasana kamar gue jadi lebih dingin dan mata gue juga terlihat nambah sayu. Padahal tuhas project menanti buat dikerjakan, tapi apadaya gue gak ngerti mau bikin apa. Pengennya cuma nulis di blog ini. Jadi sebelum mata gue gak bisa menahan bebannya, gue pengen nulis.

Oke, malam ini gue pengen ngebahas kejadian besar yang terjadi di Indonesia hari senin kemarin, tepatnya di jakarta Bintaro. Kecelakaan kereta api serpong-tanah abang sangat menggemparkan rakyat indonesia. Kejadian ini mengulang kembali kisah 26 tahun silam, pada tempat yang sama. Kecelakaan besar pada tahun 1987 lalu terjadi antara kereta api dan kereta api dan menelan korban ratusan orang.

Nah yang pengen gue bahas dari kasus ini yaitu lebih tentang bagaimana takdir bertindak. Ya, siapa yang tau kapan takdir kematian seseorang akan menghampirinya. Siapa yang tahu jika ia yang pada awalnya akan menuju ke sekolah dengan menumpangi kereta api, malah menuju ke tempat yang kekal  disana yang belum pernah terbayang di benakmu sebelumnya. Dan juga siapa yang tahu bahwa sejam sebelumnya atau beberapa jam sebelumnya itu adalah waktu terakhirnya bertemu orang yang mencintai dan dicintainya.

Semuanya sudah di skenariokan oleh yang maha kuasa dengan apik dan sangat baik. Seakan berada dalam setiap episode film yang telah diatur, kita sebagai manusia hanya mampu melaksanakan setiap aturannya. Jika memang sudah saatnya kita menghadapNya, maka apapun usaha kita, kita tetaplah manusia yang tak bisa menentang kehendak yang diatas. Termasuk tentang tibanya kematian.

Kematian menjadi hal yang paling ditakutkan oleh manusia, termasuk gue. Dengan amal yang belum seberapa gue masih belum siap jika ditakdirkan untuk menghampiri kematian. Namun satu yang gue pahami, bahwa kematian itu bukanlah sesuatu yang asing. Ia selalu setia menunggu setiap detik-menit-jam hingga tahun yang kita lalui untuk segera menemuinya.

Kematian merupakan hal yang sangat dekat dengn kita. Jadi berhentilah berpikir, "kita kan sehat-sehat aja jadi gak mungkin kita meninggal dalam waktu dekat ini. Mungkin sekitar 40 tahun lagi baru deh nyiapin diri buat dipanggilNya."

Siapa bilang orang yang penyakitan umurnya pendek, dan juga siapa bilang orang yang hidupnya gak pernah sakit umurnya panjang? Semua sudah digariskan tuhan untuk masing-masing umatnya. Si A akan meninggal dengan perantara kecelakaan. Si B akan meninggal dengan perantara penyakit. Atau mungkin si C yang tak ada angin ataupun badai tahu-tahu dipanggil.

Jika sudah tiba waktunya, tak ada yang bisa mencegahnya. Pun itu seorang yang berkuasa di negara ini. Karena kekuasaan seluruh isi bumi ini hanya Allah swt yang berhak atas segalanya. DIA lah yang menciptakan maka DIA pulalah yang berhak untuk mengambilnya kembali.

Jadi selagi nyawa, napas, dan ruh masih di badan lakukanlah yang terbaik untuk-Nya dan untuk orang di sekitar. Berpikirlah seolah-olah kematian akan menghampirimu, sehingga kamu tak berani melakukan kejahatan yang dilarang tuhan karena pada faktanya kamu selalu diawasi olehNya.

Kutipan yang saya tulis untuk menutup postingan ini : "Kurangilah kesenanganmu di dunia agar berkurang kedukaanmu di akhirat kelak" -- Imam Syafi'i

8 Desember 2013

Hari Esok Menantimu!

Minggu, Desember 08, 2013 0
Akhir-akhir ini gue mendadak gak punya semangat hidup. Dalam artian gue gak tau lagi untuk apa gue hidup di bumi ini. Setelah menghirup napas selama 18 tahun, gue masih belum bisa menerjemahkan segala yang telah tuhan kode-kan kepada gue. Gue kembali buntu memilih arah dalam setiap masalah.

Hingga kini, semua masih kabur di mata gue. Gue tak dapat melihat secara jelas yang mana yang harus gue ambil sebagai bentuk tindakan. Gue bingung. Dan pada akhirnya bgue melampiaskan dengan mogok dalam berbagai hal. Tak bersemangat dalam menjalani hidup dikarenakan gue gak punya tujuan hidup yang jelas. Itu kesalahan yang masih mengambang di pikiran gue.

Hmm, entah apa yang ada dalam benak gue ketika gue hendak memutuskan sebuah pilihan yang mempunyai dampak yang besar. Ketika sudah berada di tengah jalan dan mulai merasakan dampak yang gue tak mengerti, akhirnya muncul rasa menyesal dalam dada ini. Gue kembali berandai-andai dengan masalalu. Ya, gue kembali diseret ombak kenangan.

Pada saat itulah gue kembali pada kenyataan, bahwa pilihan ini sudah sebaik-baiknya pilihan. Gue berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa ini sudah yang terbaik yang diberika tuhan. Gue mencoba untuk menerimanya, karena gue percaya tuhan sayang sama gue.

Jalan masih panjang, dan gue baru menapakkan seperempat waktu dalam sebagian episode hidup ini. Gue seharusnya lebih semangat, harus mempunyai tujuan hidup, harus mempunyai cita-cita. Dan gue sendiri yang harus memutuskan kemana kaki ini kan berpijak untuk episode selanjutnya. Karena ini hidup gue, gue harus berusaha semaksimal mungkin.

Seperti cuplikan adegan yang gue ingat dalam sebuah film thailand, yang kurang lebih seperti ini. 

"Ketika anda mulai lelah, jenuh dan berniat untuk menyerah pada keadaan, maka pikirkanlah di benak anda bahwa anda akan mendapat akhir hidup yang indah tinggal dalam satu langkah lagi, maka teruslah berlari mencapai anganmu!"

"Setiap orang yang dapat melintasi garis finish merupakan pemenang, tak peduli seberapa cepat ia mencapai garis itu, yang terpenting ia telah berhasil melewati berbagai rintangan di belakangnya"

"Pikirkan hari esok dan buanglah pikiran buruk pada hari ini atau kemarin, serta berniatlah bahwa anda tidak akan menjadi orang yang sama pada hari esok. Terus bergerak maju untuk melangkahkan kaki 7 meter di depanmu, sehingga kau dapat mengharapkan perubahan dalam hidupmu"

Yap, gue harus berpikir tentang masa depan. Gue gak boleh mengeluh, jebuh dengan keadaan. Gue harus melawan bisikan setan. Karena banyak orang yang mengharapkan keberhasilan gue di hari esok. Bismillah :) Ganbatte Pujaaaaaaaaaaaaaaaa!

*dalam rangka menyelesaikan setumpuk tugas*

5 Desember 2013

Keegoisan

Kamis, Desember 05, 2013 0
Malam itu peristiwa yang sudah lama saya lupakan kembali terjadi. Disaat semua telah berjalan dengan lancar dan damai sesuai alur, aral rintangan itu kembali menghadang. Seakan disambar petir yang begitu dahsyat, saya terhenyak. Seakan tak percaya, setengah sadar memandangi kejadian yang sedang berlangsung di depan mata kepala saya sendiri.

Apakah seseorang akan mengulangi kesalahan yang sama setelah dulu ia pernah merasakan bagaimana sakitnya peristiwa itu? Tak taukah mereka kalau saya disini begitu perih memandangi peristiwa itu terjadi, yang bahkan lima tahun yang lalu kerap saya temui di setiap pertemuan? Tidakkah mereka berpikir, betapa egonya diri mereka ketika memperlihatkan itu semua kepada saya yang bisa dikatakan sangat trauma dengan kejadian itu?

Sungguh, saya tak habis pikir, mengapa hal itu bisa kembali terjadi. Disaat semua sudah dipersatukan dengan landasan yang kuat. Sebuah keputusan yang mereka tahu semua yang akan mereka jalankan tidaklah mudah dan pasti ada lika-liku di dalamnya. 

Ketika waktu tak lagi muda, semua perlahan berubah. Mereka melupakan janji yang pernah tersebutkan dahulu. Dengan perasaan tak bersalah, dengan mudahnya hal itu terjadi. Sebuah perang yang selalu menjadi mimpi buruk bagi saya dahulu ketika tak sewajarnyalah saya memikirkan itu semua. Tak pernahkah mereka berpikir bagaimana perasaan saya dulu? Sangat pedih, perih, penuh luka.

Hingga saat ini, peristiwa yang sering saya jumpai dahulu tak pernah hilang dalam memori ini. Setiap gerakan, ucapan, kelakuan meraka selalu terngiang di kepala ini. Setiap saya mengingat semuanya, saat episode masalalu akan bertebangan, saat itulah air mata ini kembali berjatuhan. Dimana hati ini begitu miris memikirkan setiap tindakan yang begitu keras, tak terbendung lagi rasa ini memuncak panas. Meleleh menuju saluran mata, hingga meneteskan buliran bening ke pipi.

Setelah sekian lama saya melupakan hal pahit itu, malam itu-malam senin seakan memutar kembali memori yang pernah ada. Setiap gerakan, ucapan tak terbendung menyatu menjadi sebuah ledakan dahsyat yang meluluhlantakkan setiap orang yang berada disekitarnya. Dan sayalah yang paling sakit menerima setiap puing-puing dari ledakan itu.

Saya sakit, lelah, perih, kecewa atas semuanya. Mengapa semua kembali terjadi? Disaat peristiwa beberapa tahun yang lalu tak lagi hinggap di memori ini. Saya benci situasi ini. Saya benci mereka. Keegoisan mereka membuat saya muak. Tak sadarkah mereka bahwa hati saya sangat perih menyaksikan semuanya? 

Saya seakan menyalahkan keadaan dan berusaha menghakiminya. Berharap semua hanya mimpi, namun yang ada hanyalah angan. Kini, semua telah terlanjur terjadi. Peristiwa itu kembali ada di memori ini. Sebuah keegoisan yang menerkam segalanya. Semuanya terngiang di kepala dan entah sampai kapan ia akan terus bersarang disana. Saya tidak tahu. Dan juga saya tak tahu bisa memaafkan segalanya.