11 April 2019

Sorry.

Kamis, April 11, 2019 0

Saat ini pikiran gue sangat terganggu. Entah karena orang lain, atau emang gue lagi bergejolak dengan diri sendiri. Dari dulu gue sudah terbiasa melakukan segala hal sendiri, tapi ada di suatu masa gue sangat membutuhkan orang lain. Permasalahannya gue gak pernah bisa mengatakan kalau gue lagi butuh orang lain. Yang terjadi adalah gue memendam permasalahan itu sendiri. Bagaimana tidak gue merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini?

Akhir-akhir ini entah kenapa gue banyak bertanya pada diri sendiri. Apa yang salah pada diri gue, kenapa gue bisa begini. Jujur gue juga sudah lelah dengan semua ini. Semua terasa menyesakkan. Dan pada suatu titik gue merasa semua memang sudah salah sedari awal. Its wrong from beginning. Gue dengan kesalahan sekarang, tidak jauh beda dengan apa yang sudah gue lakukan dulu. 

Terperangkap di dalam tempurung. Gue belum berani untuk melihat keluar. Saat seseorang menarik gue keluar, gue kembali menutup tempurung itu rapat-rapat. Hingga gue rasa dia takut untuk mengulanginya lagi. Gue terlalu khawatir hal-hal buruk yang belum tentu terjadi akan menjadi kenyataan. Gue takut hal paling menyakitkan yang pernah gue rasa dulu terjadi di dalam hidup gue. Karena itu gue selalu merasa menjadi orang termenyedihkan di bumi ini.

Betapa besarnya rasa bersalah yang gue rasakan karena gue belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Gue sangat sangat merasa menjadi orang kesepian yang pernah ada. Gue takut semua orang tak akan pernah mengetuk kembali tempurung itu. Gue takut selamanya akan terperangkap. Gue takut selamanya berada disini, tanpa siapapun. Saat seseorang berungkap, gue menghakimi seolah itu kesalahannya. Padahal gue tau, itu murni kesalahan gue sendiri. AH, I HATE MYSELF. 

MAAF. ATAS SEMUANYA. MAAF.

14 Maret 2019

Kumpulan Sajak (2017-2018)

Kamis, Maret 14, 2019 0

Hidup terus berjalan. Umur terus bertambah. Dan jalan kehidupan seseorang akan berubah. Hingga pada saatnya ia akan kembali melihat jalan yang telah dilaluinya. Sejauh mana ketegaran hati dapat diandalkan. Sejauh mana kekuatan yang selama ini membentengi dirinya. Akan tiba pada masanya ketegaran dan kekuatan yang ia pertahankan akan runtuh. Ketika banyak hal yang telah terjadi, semua akan kembali pada satu titik. Titik dimana semuanya bermula. Dan menjadi titik akhir dari suatu fase.

Bagaimana jadinya ketika ia mengharapkan kehadiran seseorang yang telah lama hilang dari kehidupannya. Bagaimana jika hanya itu pengharapan satu2nya. Namun untuk mewujudkannya serasa mencapai bintang di angkasa, tidak akan pernah tercapai.

Dan ketika tiba momen sakral datang di kehidupannya, dan tidak ada orang penting disana. Saksi hidup dimana seharusnya ia berada, namun ia tidak disana. Betapa hampa dan hilang.

Karena itu, ia tidak mengharapkannya. Ia tidak mengharapkan momen itu terjadi karena ia takut rasa hampa yang selama ini menyelimuti hatinya akan selamanya menetap disana. Ia akan menjadi orang termalang dan tersedih di hari bahagianya. Betapa ia tidak ingin itu terjadi.

Hingga ia membuat keputusan untuk tidak membiarkan itu terjadi. Ia tidak ingin menjadi orang paling termalang yang pernah ada di muka bumi.

— Jakarta Utara, 29 April 2017


Setiap waktu akan ada sebuah pertemuan baru.
Baik itu dengan seseorang maupun sekelompok orang.
Yang membedakan dr setiap pertemuan itu adalah seberapa lama kita membiarkan orang tersebut ada dalam kehidupan kita.
Ada orang yang sudah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama, namun ketika perpisahan menghampiri orang tersebut tak pernah muncul lagi.
Namun sebaliknya ada yang hanya beberapa hari bersama kita, namun ingatan tentang dia selalu melekat seiring bertambahnya waktu.
Ia tetap ada, saling berinteraksi dan bahkan semakin dekat. Intensitas sesorang mengenal orang baru tidak menjamin org baru tersebut berada lama di dalam kehidupan seseorang.
Bisa jadi dari sebuah perkenalan kecil malah berbuntut panjang dan berakhir dengan menghabiskan waktu seumur hidup.
Siapa yang tahu.
Malah orang lewat tersebut adalah jodohnya.
Siapa yang bisa menerka, toh semuanya tidak ada yang pasti,
termasuk jodoh.

— Lampung Tengah, 27 Juni 2017


Dunia baru.
Kita tak akan pernah tau kehidupan seperti apa yang akan kita jalani 5 hingga 10 tahun ke depan.
Layaknya seperti hari ini. Saya tidak pernah membayangkan pada 5 th yg lalu jika hari ini saya akan berada disini.

Mimpi-mimpi ketika muda kini entah kemana, berubah menjadi dunia yang penuh pemikiran panjang. Semua tujuan yg memuaskan hati berubah menjadi asal orang yang disayang dapat bahagia.

Bukan berarti penyesalan dalam keputusan ini. Namun, ada satu celah ketika hati berusaha utk meyakinkan diri. Ini benar-benar sudah jalan takdirmu. Jika memang tidak sesuai dengan ekspektasi, setidaknya kamu sudah membahagiakan mereka, dan membuatnya bangga. Itu sudah lebih dari cukup.

Bukankah memang itulah tujuan kehidupanmu yg sebenarnya?

— Jaktim, 10 Februari 2018


Perihal patah hati.
Sebenarnya saya tak begitu paham apa rasanya patah hati
Karena mencinta bagi saya sesuatu yang langka, hingga dia mengetahui nama saya

Awalnya tak ada yang menyangka saya akan begitu cepat jatuh hati padanya. Tutur katanya, cara dia menatap, cara dia berbicara adalah sesuatu yang selalu saya perhatikan. Cara dia berbicara membuat saya tak bisa lepas memandanginya secara diam-diam.

Ya, dari dulu saya sudah terbiasa mengagumi seseorang. Tapi rasanya tidak pernah yang seperti dia. Padahal kami baru saling mengenal selama 7 hari, dan rasa yang tumbuh di hati saya semakin besar setiap harinya.

Saya tak mengelak jika tiap hari saya merasa harus melihat wajahnya. Sesekali saya mencari sosok keberadaannya. Dengan melihatnya saja entah kenapa saya begitu bahagia. Ah, benar kata orang-orang jatuh cinta itu memang aneh dan tidak masuk akal. Eh, apa ini benar-benar cinta atau masih sebatas suka ataupun kagum?

Dan hari ini saya mengetahui fakta yang sangat mengkoyakan hati. Apalagi berita yang paling menyedihkan kalau orang yang kita suka ternyata sudah ada yang punya. Rasa suka memang tidak bisa diatur kapan dan pada siapa dia akan jatuh, tapi saya merasa rasa ini akan salah jika dilanjutkan. Yang ada hanya sakit yang dirasa.

Ya, mungkin memang belum waktunya saya. Atau saya menemukannya di waktu yang salah. Karena tidak ada yang tau siapa yang akan kita temui di masa depan maupun masa lalu.  Lagi-lagi saya harus mengalah. Perasaan ini tidak boleh ada.

— Ciawi, 15 Juli 2018


Hai my little me..
Bagaimana kabarmu skrg?
Apakah masih kamu yang suka mengurung diri?

Hello my little me..
Bagaimana perasaanmu skrg?
Apakah masih sering memendam hingga tak tertahan rasanya?

Aku disini sudah mencapai apa yang diimpikan semua orang
Masa depan yang kamu takutkan sudah berhasil kamu taklukkan
Kamu disana apakah masih memiliki kekuatan itu?
Kekuatan untuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak?

Ciawi, 30 Juli 2018


Hujan sore ini mungkin akan panjang.
Seolah ingin bertahan lebih lama untuk menyaksikan matahari ditelan malam.
Atau ia hanya sedang berbaik hari memberiku alasan utk tetap disini.
Termenung sendiri mensyukuri kita yg tak sempat saling berjanji.
Sejak dulu aku sadar betul bahwa
pada akhirnya ada yang harus pergi
apakah kesunyian atau dirimu.

— Jaktim, 19 Desember 2018

25 Februari 2019

Kegelisahan

Senin, Februari 25, 2019 0


Saya ingin bercerita tentang kegelisahan yang saya rasakan akhir-akhir ini.

Entah kenapa saya terlalu takut untuk melihat ke depan.

Dulu ketika memiliki mimpi saya tak sabar untuk menanti hari esok.

Setiap mimpi akan saya tulis satu-persatu, dan berusaha untuk mewujudkannya.

Tapi sekarang saya terlalu takut untuk bermimpi.

Bahkan untuk melihat ke depan saja tidak berani.

Saya tidak ingin waktu berlari begitu cepat.

Saya ingin tetap berada di waktu ini.

Disaat saya masih disini, dengan orang-orang tersayang.

Walapun sangat mustahil tapi saya berharap Tuhan mendengar.

Setidaknya tidak membuat putaran menggelinding cepat.

Saya takut hari itu akan datang.

Saat raga hanya tinggal sendiri.

Tanpa siapapun.

Tanpa satupun yang peduli.

Tanpa satupun yang mengenal.

18 Februari 2019

Cerita di Kala Sakit

Senin, Februari 18, 2019 0
Hi everybodih.
Sudah bulan kedua hari kedelapan belas tahun dua ribu sembilan belas. Tak terasa ya. wkwk. Hari ini gue lagi pengen cerita aja, chitchat gitu. Its been so long when I tell to you how my current life is.


Akhir Januari kemarin gue mendadak drop. Sebenernya gak mendadak juga, karena dari awal minggu gue udah ngerasa badan gue gak enak dan agak meriang. Tapi ya gitu, dari dulu gue berusaha kalo lagi sakit gak terlalu manjain. Bangun tidur di hari selasa gue udah feeling kalo hari itu akan demam, dan ternyata bener. Di tengah hari badan gue menggigil tapi juga ngerasa panas. Gue mutusin untuk ke poliklinik dan minta obat. Pas diperiksa ternyata suhu tubuh gue udah mencapai 39,5 derjat. Pantesan rasanya gini banget.

Abis dapet obat gue gak balik ke meja, tapi belok ke mushola. Udah gak kuat lagi, pengen tiduran dan menanti jam empat untuk pulang. Balik kosan gue langsung tiduran, dan malemnya berusaha untuk mengunyah makanan berharap besoknya udah mendingan. Keesokan harinya, suhu tubuh gue rasanya semakin parah, dan lemes banget. Gue memutuskan untuk ga masuk kantor. Ini pengalaman pertama gue gak masuk kantor selama setahun ini. Gue ijin ke kakak2 di kantor, mereka nyaranin buat ke kantor aja absen (karena status gue masih cpns), tapi kalo dipaksain rasanya badan gue bisa tumbang. Akhirnya gue bener-bener ga masuk hari itu.

Hari selanjutnya gue paksain masuk, padahal pas bangun tidur badan gue panas lagi. Gue berharap selama di kantor badan gue bisa agak mendingan. Dan bener aja, selama di kantor gue gak berasa lagi demam. Di hari selanjutnya hal yang sama terjadi lagi. Setiap bangun tidur badan gue berasa panas, giliran di kantor udah ga lagi. Dan gue kira hari itu gue udah sehat. Jadinya gue bersedia ikut lembur di malam harinya.

Eh besoknya pas bangun tidur badan gue berasa panas lagi, dan kali ini lemes banget. Rasanya itu kayak lo ga bisa kemana-mana selain tiduran doang. Gue termasuk tipe anak yang jarang nelpon orang tua kalo lagi sakit. Gue punya prinsip kalo masih bisa diatasin sendiri, kenapa harus bikin khawatir keluarga. Tapi pagi itu gue udah ga tahan lagi pengen nelpon. Gue ngasih tau kalo gue demam dan udah hampir 3 hari naik turun suhunya. Awalnya ortu ngasih tau minum obat dan jangan lupa makan. Tapi beliau nelpon lagi bilang mendingan periksa ke dokter aja tes darah biar tau penyakitnya apa.

Nah disinilah drama pertama datang. Awalnya gue minta tolong kak dias, temen kantor buat nemenin ke klinik faskes bpjs gue. Tapi ternyata ortu bilang ada sodara yang mau jemput dan nganterin gue berobat. Gue disuruh nunggu, setelah hampir dua jam yang ditunggu gak kunjung dateng. Dan badan gue rasanya udah lemes lemes banget. Jadilah gue bilang gue naik gojek aja ke klinik, dan itu posisinya udah jam setengah 2, dan badan gue udah berasa remuk banget.

Nyampe di klinik gue dihadapi dengan drama kedua, dokter umum disana sudah pulang. Ternyata kalo mau tes darah disana harus dapet ijin dulu dari dokter umumnya. Dokter umum disana dinas di hari sabtu cuma sampe jam 1 siang. Duh rasanya pengen nangis. Gue disuruh nyari klinik lain yang katanya deket sana. Gue cari lagilah ojol buat kesana, eh pas disana ternyata juga ga bisa tes darah dengan alasan lab nya bukan disana.

Dan saat itu gue nangis gatau lagi musti kemana. Dan ortu nelpon lagi dan bilang mending ke rumah sakit aja langsung ke ugd-nya. Dengan kondisi badan ga enak, gue gak tahu musti ke rumah sakit mana. Ortu searching dari rumah, dan bilang ke rs uki aja. Gue disuruh buat naik gocar aja biar nyaman kesananya. Yaudah gue turutin.

Nyampe rumah sakit, gue langsung menuju ugd dan nanya kesana kalo mau diperiksa harus kemana. Gue diarahin ke meja pendaftaran. Nah pas udah selelai daftar, mbanya nanya, "ini yang sakit siapa mba?" "saya sendiri mba.." #sedihkaliya :')

Pas masuk ke ruang periksa gue langsung ditanya-tanya dan diperiksa sama dokter yang kayaknya lagi koas disana. Ada beberapa dokter koas yang bolak-balik nanyain pertanyaan yang sama, dan pada akhirnya mereka ngecek apa itu penyakit DBD apa enggak. Setelah dicek ternyata engga DBD, jadi gue minta tes darah aja. Setelah hasilnya keluar gue didiagnosis kena penyakit tipus. Dan ini pengalaman pertama gue dapet penyakit ini dan pengalaman pertama juga akan dirawat di rumah sakit.


Sampelah di drama ketiga, saat gue tau harus dirawat dan posisinya gue cuma sendirian di rumah sakit. Gue udah ngabarin ortu dan mereka bilang malem baru berangkat dari rumah ke jakarta. Dan mungkin itu nyampenya pagi. Gue ngabarin kak dias lagi kalo gue kayaknya dirawat di rumah sakit. Dan gue minta tolong buat ditemenin tidur malem itu karena gatau lagi mau minta tolong siapa.

Jadi ternyata gini rasanya di rantau dan ngerasa ga punya siapa-siapa. Sebenernya juga gak gimana2 sih, tapi ngerasa bingung aja kalo di situasi mendesak gitu harus menghubungi siapa dan minta tolong siapa karena emang gue gak suka ngerepotin orang lain. Terlebih temen. Tapi karena gatau lagi musti ngubungin siapa akhirnya gue beraniin buat minta tolong kak dias. 

Pasti banyak yang bertanya-tanya, jadi kemana temen lo selama ini? Entahlah kadang temen itu antara ada dan tiada. Dia sebenarnya ada tapi tidak benar-benar ada. Mereka sudah punya kesibukan dan prioritas sendiri. Kalaupun gue ngasih tau mungkin mereka juga gabisa. Itu yang gue bayangin. Lagi-lagi gue gak suka ngerepotin orang.

Makasih kakkkk :*
Jadi akhirnya gue dimasukin ke ruang inap, dan setelah sejam kemudian baru kak dias dateng. Duh makasih banget lo kak udah mau nemenin. Tapi ternyata malemnya udah ada temen mami, tante erni yang dateng buat nemenin nginap disana. Jadi gue bilang ke kak dias buat pulang aja. Tante erni cerita mami sampe nangis minta tolong dia buat jagain gue, karena gatau ke siapa lagi mau minta tolong. Dah tante erni dateng dengan kondisi basah karena kehujanan di jalan. Gue makasih banget buat tante erni yang mau nemenin gue malem itu. Padahal anaknya juga abis keluar dari rumah sakit. So this is the proof of best friend.

Makasih temen-temen mami :*
Besok paginya baru mami, bunda, dan adek-adek dateng. Alhamdulillah bisa ditemenin mereka saat sakit gini. Oya gue sempet updet story foto infus di WA, jadi ada beberapa orang yang dateng buat jengukin gue besoknya. Makasih banyak ya udah perhatian :') Thats mean a lot for someone like me :') Gue ga akan pernah lupa orang-orang yang pernah menyempatkan diri buat melihat gue di kala sakit :')

Dari semua yang jenguk, yang paling memorable adalah saat dijenguk anak-anak unit di kantor. Mereka dateng ramean, dan itu penuh banget. Rasanya itu gue kayak berasa punya keluarga kedua disini, sekalinya gue dirawat masih ada yang mau nengokin dan perhatian. Ah, jadi terharu. Feel so lucky to have you all guys :)

Dan pada akhirnya gue balik hari senin setelah tiga hari nginep di rumah sakit. Gue putuskan untuk dirawat di rumah aja, dan alhamdulillah gue dapet ijin cuti sampe hari jumat. Yang berarti gue baru masuk kantor senin depan. Setelah istirahat di rumah selama seminggu, alhamdulillah badan gue udah sehatan dan fit untuk kembali beraktifitas.

Love u so much mom :***
Jadi setelah kejadian yang gue alamin di akhir Januari kemarin, I've got many lessons. For a real person who cares to us and who dont care about us. Dengan kejadian kemarin gue bisa melihat dan memilih mana teman yang bisa dijadikan prioritas dan mana teman yang cuma ada di saat senang. Dan semoga sakitku kemarin menjadi penggugur dosaku selama ini. Aamiin

Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ya gais :)))